Namanya Dwi, umur 21 thn, badan tinggi sedikit kurus. setelah lebaran kemarin, dia memakai jilbab. Alhamdulillah…akhirnya hidayah ALLAH datang juga. tak sia – sia aku menyelipkan siraman rohani dalam setiap obrolan kami. dia sudah ikut orang tuaku sejak setahun yang lalu. datang ke jakarta dengan tujuan kerja, namun pekerjaan apa yang pantas untuk anak yang bahkan SMA pun tak tamat ? mungkin hanya pembantu rumah tangga celah yang masih tersisa untuknya. Tapi dia tak mau menjadi pembantu rumah tangga lagi. Cukup sudah 3 tahun terlunta – lunta di negeri orang demi sesuap nasi. Pengalaman bekerja yang sama sekali tak pernah terbayangkan di benak kecilnya. hanya demi keluarga lah dia bertahan selama 3 tahun. pulang dari negeri orang, sudah terbesit segudang rencana untuk masa depannya. tak tanggung – tanggung, dengan kepala tegak dan tekad yang kuat dia memploklamirkan diri…AKU TAK SUDI JADI PEMBANTU LAGI “. Kadang keluargaku tertawa bersama kala mendengar cerita waktu dia di negeri orang. Cerita suka dan duka baginya sudah dianggap bak cerita komedi panggung. kepala tegak dan tekad bulat demi adik – adiknya yang masih sekolah.

Kadang aku trenyuh melihatnya. orang tua yang tetap memaksanya agar bekerja kembali sedang keinginan dia untuk melanjutkan SMA – nya begitu menggebu. Impian dan harapan untuk hidup lebih baik sudah tak terbendung, walau untuk itu dia harus bersitegang dan berdebat dengan bapaknya. keberangkatannya ke jakarta kemarin setelah lebran menorehkan luka dihatinya. kata – kata usiran dari bapaknya terlontar karena dia tetap mempertahankan tekadnya untuk sekolah kembali demi masa depannya dan juga adik – adiknya.

Satu sisi aku mengerti alasan orangtuanya, tapi disisi lain aku tak terima. mengapa di jaman yang sudah maju ini, masih ada orang tua yang memaksakan anaknya untuk bekerja sedangkan dia masih ingin maju dengan sekolah meski harus ikut KEJAR PAKET ? mengapa hanya demi rupiah tega-teganya orang tua mengorbankan masa depan anaknya? mengapa hanya demi uang 150 ribu rupiah per bulan sebagai penjaga toko di kampung orang tua tak mendukung keinginan anaknya?

Akhirnya dengan menanggung segala macam resiko, dwi berangkat ke jakarta. Mungkin ini salah satu jalan untukku berbuat amal walau pada saudara sendiri. Walau untuk sehari- haripun aku masih kekuarngan,tapi kuberanikan diri mengucapkan bismillah untuk membiayai sekolahnya. Entah uang dari mana, tapi aku yakin ALLAH akan membantuku untuk meuwujudkan cita-citanya.Amin

( To be continued )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: