Poster-Film-Surat-Cinta-Untuk-Kartini

“Jadi perempuan Jawa itu harus pintar, agar bisa dihargai” – R.A KARTINI

 

Film Surat Cinta Untuk Kartini lahir dari ide sejarah, namun mengambil sudut pandang dari mata seorang rakyat jelata. Film ini unik karena sejarah pada umumnya hanya menceritakan pemikiran dan kehidupan para cendekiawan, tokoh besar dan kaum bangsawan. Sedangkan film ini tidak. Catatan kisah hidup Kartini di balik perjuangannya, sungguh menjadi renungan kita semua.

Sawardi, duda beranak satu, yaitu Ningrum, bekerja sebagai pengantar pos. Dengan sepeda onthelnya, Sawardi mengantarkan surat keliling kampung. Hingga satu hari dia mengantarkan surat ke rumah Bupati Jepara, dan melihat untuk pertama kalinya raut wajah R.A Kartini. Kaget, takjub, dan mulai tumbuh kekaguman Suwardi pada Kartini. Disinilah kisah romansa berbalut sejarah mulai bergulir. Peremuan demi pertemuan membukamata Suwardi bahwasanya pendidikan itu penting.

“Kita tidak bisa mengubah asal-usul kita. Namun kita bisa mengubah pemikiran kita.”

Kalimat R.A Kartini inilah yang menggerakkan Suwardi untuk mengantarkan Ningrum belajar pada Kartini. Film dibawah arahan sutradara berbakat Azhar Kinoi Lubis ini seolah mengantarkan kita mengunjungi pameran foto. Setiap adegan, lokasi, kostum hingga mimik ekspresi pemain pun digarap dengan detil oleh Azhar. Potret kehidupan masa lalu negeri ini seolah terpampang di depan mata dengan jelas. Seperti album kenangan yang terbuka kembali agar dapat dinikmati oleh generasi penerus bangsa ini. Wajar produser film ini sampai mengeluarkan dana tambahan diluar bugjet awal karena Azhar memang ingin menggarap dengan detil, bahkan pemilihan lokasi syutingpun sampai berkali-kali diriset.

kartini5

Menurut pakar dan kritikus film senior Indonesia, Pak Ian, dalam konferensi pers beliau mengacungkan jempol untuk film ini. Mengapa? Karena inilah film satu-satunya dimana semua pemain TIDAK MENGENAKAN ALAS KAKI sama sekali. Bahkan film sejarah produksi luar negeripun masih tetap menggunakan alas kaki. Salut untuk tim produksi yang menggarap detil wardrobe, dll. Sedangkan untuk akting pemain, semua bagus. Chico, Rania, Cristabelle sebagai Ningrum mampu melebur dalam setiap adegan. Bahkan Chicosampai dua hari tidak mandi loh demi mendapatkan feel sebagai rakyat jelata…hihihi.. Bumbu humor namun tidak kacangan dibawakan dengan apik oleh Mujur ( Ence Bagus). Ence yang banyak bermain mimik sudah mengundang tawa penonton tanpa harus mengeluarkan joke-joke klise.

Kali ini saya acungkan jempol untuk Diah Ayu Pasha yang berperan sebagai ibu kandung Kartini. Ekspresi hati yang sakit, nelongso, nrimo, dan menangis sangat apik dimainkan Diah. Sosok sebagai istri yang tersembunyi, berpura-pura sebagai abdi dalem Kartini, padahal itu anak kandungnya sendiri. Bisa Anda bayangkan itu? Poligami jaman dahulu disorot sekilas, sebagai gambaran bahwa kaum feodalpun banyak melakukan ketidakadilan, namun tertutup oleh adat istiadat. Tak banyak kalimat, namun Diah bermain di ekspresi wajah.  Jika bukan karena pengalaman beliau sebagai artis senior berkarakter, sulit memainkan peran seperti ini. Saluut untuk ibu Diah. saya angkat topi, bu.

kartini4

Demikian pula dengan akting Keke Harun. berperan sebagai ibu tiri Kartini, ada satu kalimat yang diucapkan beliau ketika ditanya bagaimana bisa membesarkan bukan anak kandungnya sendiri? Jawaban beliau, “Ibu sadar dengan kedudukan ibu. Ibu melakukannya tanpa paksaan tapi dengan kerelaan hati.” Sungguh jawaban yang penuh dengan keiklasan dan dilandasi hati yang arif.

Bagaimana akhir kisah Suwardi dan R.A Kartini? Apakah Suwardi berhasil menyampaikan isi hatinya? Apakah Kartini berhasil mewujudkan cita-citanya dengan bantuan suaminya, Bupati Rembang? Apa sebenarnya isi surat cinta R.A Kartini untuk Suwardi? Penasaran, kan? Yukk ajak anak, orangtua, adik, kakak, keponakan, paman, bibi dan teman-teman menonton film fiksi berbalut sejarah ini. Jangan lupa bertepatan dengan hari KARTINI ya mulai tayang di bioskop kesayangan Anda. Nikmati keindahan alamnya, nikmati setiap detil objek fotonya, dan resapi setiap kalimat-kalimat bijaknya.

Bravo untuk MNC PICTURES. Salam KOPI Demi Film Indonesia 🙂

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: