Apapun profesi dan latar belakang kita, BAHASA menempati tempat tertinggi dalam hidup manusia. Terkadang pertanyaan yang biasa menjadi kalimat yang luar biasa jika si penerima sedang dalam kondisi tidak siap. Kata yang sederhana sekalipun akan jadi luar biasa di saat seseorang membutuhkan suntikan semangat dan dukungan. Kata-kata yang kurang baik bagi seseorang, demikian juga sebaliknya, menjadi biasa dan tidak biasa di telinga orang lain, karena perbedaan latar belakang dan gaya bahasa.

Maksud dan tujuan yang hendak kita sampaikan, terkadang tidak seperti yang diharapkan. Menuliskan kata dengan segenap perasaan karena rasa peduli, terkadang menjadi warna yang lain bagi si penerima. Entah karena cara kita menyampaikannya kurang tepat, entah karena waktunya yang kurang pas, dan seringkali lebih pada sikon hati si penerima.

Bahasa bisa menjadi pemersatu manusia, namun bisa juga merenggangkan bahkan menghancurkan sebuah hubungan. Semua berpulang pada hati nurani masing-masing. Ketika menerima sebuah kalimat, jangan langsung bereaksi. Diam sejenak, endapkan dalam pikiran, olah dengan hati dan perasaan. Hasilnya Insya Allah akan jauh lebih menyenangkan untuk kedua belah pihak. Demikian pula dengan si pemberi kalimat. Pikirkan dan renungkan sebelum mengucapkan, apa efek dari kalimat yang hendak kita sampaikan. Karena kita sering lupa dan merasa diri kita lebih baik hingga belum mampu menerima sesuatu yang diluar gaya bahasa dan hidup kita.

Mari kita bijaksana dalam berbahasa, dengan melihat latar belakang lawan bicara. Dengan satu keyakinan, bahwa tidak ada manusia yang sempurna.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: