Koperasi besar mampu mendulang aset lebih dari Rp 7 triliun dan volume usaha lebih dari Rp 5,7 triliun.

Demikian hasil survey yang berhasil dihimpun oleh Majalah Peluang sebagaimana disampaikan oleh penulis dan pengamat perkoperasian, Bpk Irsyad Muchtar saat peluncuran buku “100 Koperasi Besar.” Koperasi yang dulu dianggap kuno dan hanya digunakan oleh warga kelas bawah, kini berhasil naik kelas sejajar dengan perusahaan swasta. Hal ini bisa dilihat dari beberapa faktor :

  1. Sistem Informasi ; Koperasi sekarang tidak bisa dianggap sepele karena sudah bermetamorfosis menjadi lebih wah dan berkelas, dengan jangkauan dan target seperti layaknya sebuah perusahaan. Demikian pula dengan sistem kerjanya, sudah menggunakan perangkat dan sistem berbasis teknologi, bukan hanya manual dengan kertas saja. Bahkan banyak koperasi yang membangun jaringan usahanya berbasis digital dan melakukan transaksi online sebagaimana layaknya sistem perbankan. Pemanfaatan teknologi ini ternyata membawa pengaruh besar terhadap kinerja koperasi menjadi lebih efektif dan efisien. Jika dulu semua transaksi dicatat menggunakan kertas dan pulpen, kini sudah jauh berkurang. Semua transaksi masuk dan terdokumentasi menggunakan aplikasi komputer. Selain pengurangan kertas juga mempercepat sistem kerja dan dokumentasi yang lebih rapi.
  2. SDM Koperasi yang visioner ; jika dulu koperasi hanya dikelola oleh orang tua dan tidak punya pekerjaan pasti, kini tidak lagi. Koperasi besar baik di kota maupun di di pedalaman kini dikelola oleh anak-anak muda dengan range usia antara 24 tahun ke atas. Hal ini tentu menggembirakan karena koperasi perlu SDM-SDM yang memiliki ide kreatif, visioner dan harus mampu mengikuti perkembangan jaman. Tanpa pengelola yang visioner, koperasi hanya sekedar wadah orang menyimpan dan meminjam uang tanpa ada pertumbuhan dan ide usaha yang lebih maksimal. Dengan pengelola berusia muda terbukti koperasi kini mampu membukukan volume usaha yang fantastis dan tidak bisa dianggap sebelah mata. Pengelola koperasi kini juga mampu keluar dari paradigma negatif bahwa koperasi itu suram dan hanya menunggu kucuran dana dari pemerintah. Hal inilah yang ditepis oleh pengelola koperasi berjiwa muda.
  3. Dukungan pemerintah dan perusahaan swasta juga menjadi pendorong tumbuh pesatnya koperasi melebihi target. Kesadaran akan pentingnya peran aktif koperasi  koperasi, terbukti mampu menjadi salah satu sebab tumbuhnya perekonomian Indonesia, baik di perkotaan maupun di pedesaan. Tanpa dukungan berbagai pihak, koperasi pasti tidak mampu berkembang sebagaimana yang diharapkan. Dukungan pemerintah dengan fasilitas kredit dan kemudahan perijinan juga berdampak positif bergairahnya semua elemen koperasi
Menteri KemkopUKM dan penulis buku

100 Koperasi Besar edisi ke-3 ini buku yang memuat 100 Koperasi Besar yang dibagi menjadi 3 kategori :

  1. 100 Koperasi Besar
  2. 100 Koperasi Besar Progresif
  3. 100 Koperasi Besar Potensial

Riset dan wawancara yang dilakukan oleh Pak Irsyad memberikan pencerahan bahwa koperasi pun harus diperlakukan dan dikerjakan dengan sistem sebagamana layaknya perusahaan. Disebut koperasi besar karena mampu Koperasi besar seperti Kospin Jaya dari Pekalongan (Jateng) membukukan aset Rp 7,036 triliun dan volume usaha Rp 4,6 triliun. Koperasi Kredit Lantang Tipo (Sanggau, KalBar) dengan aset Rp 2,6 triliun dan volume usaha Rp 1,8 triliun, demikian pula dengan KSPPS UGT Sidogiri dengan aset Rp 2,3 triliun dan volume usaha Rp 2,05 triliun, masih berkantor di Pasuruan, Jatim. Koperasi besar itu tidak serta merta membukukan aset triliunan hanya dalam hitungan bulan, perlu proses lama, kerja tim dan manajemen yang kuat untuk terus tumbuh dan berkembang.

Buku 100 Koperasi Besar karya ini diluncurkan oleh Menteri Koperasi dan UKM, Bpk AAGN Puspayoga di Auditorium KemenkopUKM di kawasan Kuningan, Jaksel. Pada kesempatan ini Bpk Menteri juga menyerahkan piagam dan tropi kepada 13 koperasi besar dengan kinerja menonjol dan memuaskan. Daftar 13 koperasi tersebut adalah :

  1. Kopdit Lantang Tipo – 3 penghargaan sebagai koperasi kredit dengan set, volume usaha dan IT Terbaik.
  2. KSPPS UGT Sidogiri – 3 penghargaan sebagai koperasi syariah dengan aset, volume usaha dan IT Terbaik.
  3. Koperasi Setia Bakti Wanita Surabaya – 2 penghargaan sebagai koperasi konsumen dengan aset terbesar dan IT Terbaik
  4. Kisel Jakarta – 2 penghargaan sebagai koperasi fungsional dengan volume usaha terbesar dan IT Terbaik
  5. Kospin Jaya – 2 penghargaan sebagai koperasi simpan pinjam dengan aset dan volume usaha terbesar
  6. Koperasi Pusat Susu Bandung Utara (Lembang) – 2 penghargaan sebagai koperasi produsen dengan aset dan volume usaha terbesar
  7. Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia – penghargaan sebagai Koperasi Syariah dengan CSR Terbaik
  8. Koperasi Astra International – penghargaan sebagai koperasi fungsional dengan CSR Terbaik
  9. Koppas Srinadi – penghargaan sebagai Koperasi Konsumen dengan aset Terbesar
  10. Kopdit Keling Kuman Sintang Kalbar – penghargaan sebagai Koperasi Kredit dengan CSR Terbaik
  11. Koperasi Agro Niaga ( Jatim) – penghargaan sebagai Koperasi Produsen dengan CSR Terbaik
  12. Koperasi Simpan Pinjam Sejahtera Bersama (Bogor) – penghargaan sebagai Koperasi Simpan Pinjam dengan IT Terbaik
  13. Healthcare Mandiri (Jakarta) – penghargaan sebagai Koperasi Fungsional dengan Aset Terbesar
Penghargaan pada salah satu koperasi peserta

Dibalik kesuksesan naiknya pamornya, koperasi ternyata juga menyimpan permasalahan yang cukup peilik, yaitu terkait pajak untuk koperasi.  Sejumlah koperasi besar yang berdialog dengan Menkop UKM dan Ditjen Pajak mengajukan beberapa rekomendasi, yaitu :

  1. Pajak Koperasi, agar pemerintah memberikan perlakuan pajak khusus bagi koperasi sehingga tidak sama dengan transaksi jual beli pada umumnya.

Berdasarkan PPN Pasal 4 Ayat 1, pajak SHU sudah dikenakan pajak namun anggota yang menerima pajak juga masih dipungut pajak,” kata salah satu pengurus Koperasi Kredit Lantang Tipo Sanggau, Kalbar.

2. Pengenaan pajak terhadap bunga simpanan, dimana setiap kelebihan dari bunga simpanan sebesar Rp 240.000 dikenakan pajak.  Batasan tersebut berdasarkan ketentuan PPH Pasal 4 Ayat 1 tentang jasa/bunga simpanan anggota kepada koperasi simpan pinjam atau unit simpan pinjam yang dibuat pada tahun 2008, angka tersebut dinilai relatif dibanding laju kenaikan inflasi saat ini.

3. Pemberlakuan PPH Pasal 22 tentang pungutan hasil pertanian dan peternakan bahan baku industri, dimana anggota peternak masih dipungut pajak pakan ternak sebesar 0,25 %

4. Peninjauan terhadap tarif PNBP bahi koperasi pegawai negeri sipil yang menggunakan aset/fasilitas negara.

Cinderamata untuk Bpk Menteri

Diskusi terkait koperasi dan pajak ternyata mengerucut pada permintaan pengelola agar pemerintah semakin mendorong dan memberikan fasilitas dan akses agar koperasi di Indonesia semakin maju agar mampu bersinergi dengan pemerintah dalam memajukan perekonomian. Diperlukan sinergi berbagai pihak agar peluncuran buku ini mampu menjadi pemacu semangat agar insan perkoperasian di Indonesia mampu mencari terobosan dan ide kreatif agar koperasi makin berkembang dengan sistem digitalisasi.

Peluncuran edisi ke-3 buku “100 Koperasi Besar” diharapkan menjadi pendorong aktif dan tumbuhnya koperasi sebagai soko guru perekonomian Indonesia. Karena tidak mudah menggali data koperasi besar karena tidak banyak koperasi yang memahami arti penting publikasi. Lebih kurang 80% koperasi di buku ini sudah melek IT, mulai drai koperasi di desa hingga kota besar dimana terbanyak ada di Jawa Timur. Diharapkan kehadiran buku ini mampu menghasilkan outcome positif yaitu meningkatnya nilai tambah koperasi, kian terbukanya akses permodalan dan berkembangnya jaringan melek IT.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: