Toko Buku Gunung Agung, Kramat Jati
Toko Buku Gunung Agung, Kramat Jati

Apa yang terlintas ketika Anda melihat buku? Apa yang jadi pertimbangan ketika Anda memutuskan membeli sebuah buku? judulnya menarik, nama penulisnya, isinya berbobot atau covernya yang membuat Anda jatuh cinta walau belum membuka plastik pembungkusnya ?

Seribu satu alasan bisa kita  kemukakan. Namun, pernahkah terlintas dalam pikiran berapa lama proses pembuatan buku mulai dari penulisan, mampir ke kamar redaksi, dipegang tangan dingin editor, masuk ke dapur percetakaan, terdistribusi ke jaringan toko buku besar hingga akhirnya sampai di tangan Anda? Prosesnya puanjang namun tak sebanding dengan proses narsisnya buku di rak toko buku.

Minggu lalu saya mampir ke toko buku. Masuk langsung disuguhi pemandangan display sebuah penerbit besar. Di atas meja yang cukup besar ada deretan pot tanaman, sistem pengairan hidroponik, dan dibawahnya deretan buku yang terkait dengan tema display. Unik dan sesuai dengan ciri khas buku-buku terbitannya.

Kemudian kaki melangkah ke deretan novel karena memang saya mencari novel sebagai bahan referensi. Kepala saya langsung pusing. Membaca puluhan judul buku, melihat cover yang bisa bikin orang jatuh hati, hingga coba mengeja nama penulisnya. Ada yang sudah saya kenal namun lebih banyak yang tidak. Apakah ini berarti saya kurang gaul ? Tidak juga. Karena ternyata banyak penulisnya yang masih remaja, ABG. Atau mungkin karena segmen tulisan dan jenis bacaan yang saya sukai yang membuat saya tidak banyak mengenal nama-nama penulisnya?

Sejenak saya tertegun, berdiri mematung dengan sebuah novel di tangan. Otak saya langsung berfikir, dari sekian puluhan judul di depan saya, berapa judul yang sanggup menembus angka target penjualan? berapa banyak yang sudah cetak ulang ? Atau, justru berapa banyak dari deretan ini yang akan gugur di semester pertama ? Bagaimana pola promosi yang dilakukan penulisnya agar bukunya punya waktu narsis lebih lama ditoko buku? Agar pegawai toko pun senang mencari dan tidak mengeryitkan dahinya seolah-olah bingung buku yang dimaksud yang mana ?

Tak usah muluk-muluk buku sampai best seller deh. Karena jika dihitung dengan matematika, 1 : 100 penulis yang bukunya best seller terus menerus. Bisa menembus angka penjualan cetakan pertama saja sudah syukur. Bahkan bisa cetak ulang pun harus lebih disyukuri. Karena fakta di lapangan lebih banyak buku yang biasa-biasa saja, kalau tidak ingin dibilang  tidak laku daripada buku yang best seller.

Laris atau tidaknya sebuah buku di rak tergantung banyak faktor. Pola promosi, nama besar penerbit, sistem distribusinya mudah atau tidak, sering tidaknya buku berseliweran di sosial media, harga buku, temanya, sampai berat ringannya materi yang dibahas. Jangan menyalahkan penulisnya atau penerbitnya saja akibat buku tidak menembus angka penjualan yang diinginkan. Terlalu banyaknya tema sejenis dengan cara penyampaian dan promosi yang “biasa-biasa” saja terkadang membuat calon pembaca bosan. Keterbatasan penerbit untuk dana pos promosi pun mempengaruhi seleksi penulis mana yang mendapat durian runtuh untuk bedah buku atau talkshow.

Ini menjadi catatan tersendiri buat saya. Menulis yang baik dan melalui proses yang panjang saja tidak cukup. Zaman dan sistem perbukuan sudah berubah. Masih ada sederet tugas penulis selain hanya menulis saja. Semua tergantung cantik tidaknya kolaborasi antara penulis dan penerbit. Jika buku laris, tentu penerbit tidak meringis, bukan ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: