“Bapak, kulo nyuwun tulung dikirimi buku kale majalah bekas nggeh” kata ratih di telepon. bapaknya balik bertanya, ” arep nggo ngapa ? bade nggeh ndamel perpustakaan pak, mangke nek ngampil buku setunggal sewane Rp 25,-.oooo..ya wis mengko bapak tukokna” . Alhamdulillah, akhirnya aku bsai juga buka perpustakaan di kampung, bisik ratih.

Niat itu awalnya karena di melihat banyak sekali majalah kuncung dan bobo di rumah saudara sepupunya Andi. ide terlintas di kepala, dia mengajak andi untuk bergabung dengan meminjamkan buku dan majalahnya dengan sistem pembagian rata.

Akhirnya saat yang ditunggu – tunggu tiba. Bapak pulang dengan  membawa sekardus besar majalah, komik dan buku bekas. tanpa menunggu lama, dengan tangan kecilnya ratih membuka kardus dan ” wah, bagus – bagus sekali pak bukunya, aduh…pasti nanti banyak yang nyewa, ya ga dek ? tanya ratih pada adeknya yang masih duduk di kelas 3 SD itu..iya mbak, cepetan diberesin, besok kita sudah bisa buka perpustakaan ya  ? asyikkkk…

Keesokan harinya setelah pulang sekolah, makan siang dan sholat zuhur, ratih mengeluarkan meja tamu yang panjang. diberi taplak, lalu segera disusunnya majalah dan buku bekas itu. belum selesai menyusun, datang teman-temannya, segera mereka mengelilingi meja buku, membolak – balik dan bertanya ini itu mulai dari berapa sewanya, berapa lama pinjamnya dll. Ratih pun menjawab pertanyaan itu dengan lancar dan muka berseri – seri. Sudah terbayang perpustakaannya ramai dan uangpun akan memenuhi kaleng uangnya hihihihih…

Tak terasa hari sudah sore.” Ratih, pegang aja terus itu buku. nggak inget waktu ya ? ” . Aduh..itu kan suara kakek. Ya Allah tolong jangan sampai kakek marah gara – gara aku keasyikkan jaga perpustakaan. Secepat kilat ratih dan adeknya memberesi buku dan majalah, memasukkannya kedalam kardus dan meletakkannya di sudut rumah. ratih masih bingung, kenapa kakek selalu menunjukkan muka masam bahkan kadang marah kalau ratih mulai memegang dan membaca buku?  Ratih juga sedih, apa salahnya baca buku dan buka perpustakaan? kan kegiatan ini positif? Ahh…bisa saja kakek iri karena dalam waktu sebulan ratih sudah bisa mengumpulkan uang banyak dari sewa buku dan majalah.iya ga ? ingin ratih bertanya pada bapak, tapi baru ketemu bapak lagi bulan depan…sabar dulu deh.

Waktu berlalu dengan cepat. tak terasa sudah sebulan ratih membuka perpustakaan dan kaleng uangnya sudah hampir terisi penuh. teman – temannya, bahkan orang dewasapun suka membaca koleksi perpustakaannya. Alhamdulillah, selain tambah teman, ratih juga sudah ikut menumbuhkan sikap senang membaca warga kampungnya.

Akhirnya saat yang dinanti – nanti tiba. Bapak pulang sambil membawa majalah bekas lagi. Malamnya saat duduk depan teras rumah sambil memijat pundak bapak ratih bertanya tentang alasan kakek kenapa begitu membenci hobi ratih membaca buku. Bapak menoleh ke ratih dan ratihpun kaget dengan tatapan bapak.apa aku salah ya bertanya seperti itu? Akhirnya bapak buka mulut ” kakek tidak membenci hobi ratih, tapi kakek kecewa dengan masa lalunya. dulu kakek orang pintar, suka membaca dan koleksinya pun banyak. Tapi banjir juga yang menghancurkan buku dan majalah kakek, hancur kena air tanpa ada yang bisa diselamatkan. Padahal demi memuaskan hobinya, kakek rela menyisihkan gajinya yang tak seberapa itu. Pada dasarnya kakek senang ada cucunya yang mewarisi hobi membacanya, tapi kakek takut kamu lupa waktu dan kecewa bila terjadi sesuatu dengan koleksi perpustakaannmu. cuma itu nak kenapa kakek suka uring-uringan.paham ? paham pak..ratih tercenung. berarti selama ini dia berburuk sangka pada kakek.

Iya deh, Ratih janji kek meski membaca buku ratih tak akan lupa waktu dan belajar. Ratih juga akan jaga baik – baik koleksi perpustakaan ratih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: