Pandang cermin itu. Apa yang terlihat? Wajah yang cantik atau manis, tersenyum atau justru sudut bibir yang melengkung ke bawah? Atau wajah yang terkesan garang dan tegas? Mari duduk dan diam sejenak untuk berkaca pada cermin yang bening. Menilai dengan jujur, dengan keikhlasan hati untuk mau mengakui semua kesalahan dan ketimpangan. Menolehkan kepala ke belakang, melihat apa yang tertinggal. Menundukkan kepala untuk memberi nilai pada diri sendiri. Apakah hati kita sudah lapang atau justru masih terkunci? Menengadahkan kepala agar otak mau berfikir lebih luas dan dalam seperti lautan. Santapan yang lezat akan tersaji bila kita mau sedikit saja mengakuisisi semua pundi-pundi kebaikan dan keburukan ke dalam wadah bernama keikhlasan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: