bangkit“Jika Jakarta tenggelam, apa yang harus kita lakukan? MENYERAH? TIDAK !!! Karena Menyerah Bukan Pilihan”

Proses Produksi

Didukung oleh 300 kru, 60 hari produksi, 1.000 pemain dan 1.330 shots, inilah film disaster pertama Indonesia yang menggunakan CGI dalam proses produksinya. Aplikasi grafis komputer CGI atau Computer Generated Imagery, biasa digunakan dalam proses pembuatan film, iklan, video games, dll. Tidak main-main, film ini membutuhkan riset selama 2,5 tahu, loh.

Sebuah film adalah karya fenomenal. Apakah dia bisa menjadi sebuah mesin penggerak perubahan atau hanya sekedar lips sync hiburan semata, ditentukan dari konsep dan naskah. Hampir tidak ada film dalam negeri yang mengangkat kisah tentang bencana alam dari sisi anggota tim SAR. Selain karena dari sisi industri kurang komersil, film tentang bencana harus bekerja ekstra karena temanya yang tidak umum. Namun, Kaninga Pictures yang berkolaborasi dengan Oreima Film dan Suryanation, berhasil mengangkat tema yang tidak biasa, Jakarta tenggelam !

Rasa terpukau yang besar dengan ide cerita Jakarta ditimpa bencana, membuat naluri Willawati, selaku produser eksekutif langsung berani mengambil keputusan. Kepercayaan yang besar sebagai sahabat, akhirnya membuat Willawati bekerja sama dengan sahabatnya, sutradara Raka Prijanto. Sutradara kawakan yang banyak melahirkan flm dan FTV berkualitas tinggi ini, patut kita beri apresiasi tinggi karena keberhasilannya menterjemahkan ide dan konsep film dalam bentuk visual.

bangkit2

Jujur, secara pribadi, saya salut dengan kerja keras tim ini. Tidak mudah menuangkan ide film dengan menggunakan visual effect yang relatif mahal dan baru bagi perfilman Indonesia. Visual Effect yang selama ini saya tonton di film Hollywood, ternyata mampu diproduksi oleh anak bangsa yang handal. Ini patut diapresiasi karena bukan pekerjaan yang mudah dan sebentar.

Cerita Antimainstream.

Film romantis? Sudah biasa. Film balada? Ahhh, Indonesia mah jagonya. Film kacangan? Iihhh, ini apalagi. Film antimainstream, ini baru BANGKIT. Film mengangkat kisah dari sisi kehidupan anggota tim SAR, Addri. Diperankan dengan sangat apik dan heroik oleh Vino G. Bastian, Addri berhasil menunjukkan bagaimana kehidupan seorang anggota tim SAR. Melakukan tugas menolong sesama, namun dipihak lain harus menahan gejolak perasaan meninggalkan keluarga, pada saat sama-sama membutuhkan. Tak kenal lelah dari satu bencana ke bencana lain, membuat Addri tampil sebagai sosok SAR yang begitu peduli pada orang lain, tangguh dan menularkan semangat pada orang lain.

Film ini sarat dengan visual effect yang luar biasa. Tak sia-sia tim produksi membawa film ini hinggak ke Bangkok untuk menyelesaikan proses color-grading dan special effect, semetara proses editing, voice mixing, dan visual effect tetap dilakukan di Jakarta. Film ini harus ditonton oleh keluarga karena sarat akan ilmu bagaimana cara kerja Basarnas, PMI, BMKG, Kementerian Sosial, dan Tagana. Dukungan instansi terkait dalam bentuk fasilitas alat bencana, teknik menangani bencana hingga diskusi, membuat film ini menjadi film pertama dan satu-satunya film tentang bencana yang dikemas sangat apik namun tidak membosankan. Ada kisah romantis dibalik kisah sedihnya.

Namun, dukungan justru tak datang dari anak dan istrinya. Eka (Yasamin Jasem) yang kecewa karena ayah tak ada disaat dia membutuhkan, Dwi yang takut didekati ayahnya, hingga istrinya, Indri (Putri Ayudya) yang marah karena Eka meninggal akibat banjir. Hingga Indri berkata pada dr. Denada ,” Dia pahlawan bagi orang lain. Tapi bagi saya….’. Kesalahan yang ditimpakan pada Addri, tekanan pekerjaan bertubi-tubi membuatnya hanya bisa berkata, “Apakah kesedihan harus ditunjukkan dengan airmata?”. Masalahpun menimpa Arifin ( Deva Mahendra), ahli BMKG yang berkali-kali terganjal masalah ketika hendak menikahi dr.Denada, kekasihnya.

bangkit3

Lantas, bagaimana akhir kisah film ini? Siapa dan apa yang dapat menghentikan bencana yang akan menenggelamkan Ibukota? Apakah Addri hanya mementingkan pekerjaannya dibandgkan keluarganya? Bagaimana Addri, Indri, Dwi, dr.Denada dan Arifin dapat bangkit dari bencana ini? Akankah Addri mampu menularkan semangat untuk bangkit pada orang lain?

Ayoo ajak keluarga nonton film ini ya jika tidak ingin Jakarta tenggelam 😉

One thought on “Film BANGKIT : Visual Effect CGI Pertama di Indonesia.”

  1. Pasti mengharukan sekali endingnya. Sudah kebayang kalo Jakarta ditimpa banjir luar biasa dan tenggelam. Bagaimana dengan proses evakuasi dan penyelamatnya? Kudu nonton film ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: