teasier

Apakah sebuah film mampu meraup hasil menguntungkan tanpa publisitas media? Bagaimana membentuk  mindset calon penonton seperti yang diinginkan rumah produksi? Mampukah sebuah profesi atau komunitas mengedukasi calon penonton untuk lebih cinta film Indonesia? Ya, untuk itulah KOPI, Koalisi Online Pesona Indonesia hadir melalui salah satu programnya, yaitu membantu industri perfilman Indonesia dengan menuliskan review film. Sebuah kolaborasi cantik antara blogger dan jurnalis online untuk membuka cakrawala penonton melalui tulisan.

Film ” Bulan Terbelah di Langit Eropa” adalah film kedua kerjasama KOPI dengan rumah produksi. Film drama dengan latar belakang serangan WTC 2011 dengan mengambil sudut pandang yang berbeda. Sungguh, saya justru tergelitik mencari jawaban, mengapa penulis dan rumah produksi memilih judul itu? Apa ekspektasi yang diinginkan produser dari judul tersebut? Mengapa harus bulan yang terbelah? Kenapa harus di Amerika, bukan di negara lain?

Apapun terkait dengan Islam selalu menarik untuk diangkat ke permukaan. Teroris, hijab, Alquran dan nilai-nilai Islam selalu menjadi sorotan di negara non Muslim. Ketika perbedaan keyakinan sudah masuk ranah emosi dan kultural, hanya nilai-nilai kebaikan pada sesama yang menjadi jembatan perdamaian. Ketika Hijab menjadi sumber kebencian, akankah mengurungkan niat muslimah menjalankan syariat? Ketika Alquran dipertanyakan kebenarannya, bagaimana benteng yang akan dibangun Muslim untuk membelanya?

Keberadaan Muslim di Amerika memang makin terpuruk sejak terjadi serangan WTC. Berbagai sikap kasar dan pandangan sinis terhadap muslim benar-benar menuntut tingkat keistiqomaan yang tinggi. Hanum yang jengah dengan sikap sinis seorang perempuan non muslim, Julia Collins yang terpaksa memakai wig untuk menutupi identitas Muslimnya, dan Sarah yang terpaksa keluar dari sekolah karena ejekan temannya bahwa ayahnya adalah teroris.

Saya acungkan jempol dengan akting Rianti Cartwight, terutama emosi yang ditunjukkan ketika dia mengatakan bahwa dia hilang kebanggaan pada Islam, pada agama yang diyakininya. Saya tersentak dan bertanya, beginikah perasaan Muslim di Amerika ketika terjadi serangan itu? Tersudut, ingin membela diri namun tak mampu? Lagi-lagi emosi menguras airmata ditunjukkan Julia ketika mengetahui dari pidato Brown Phillipus bahwa suaminya bukan teroris, julukan yang diberikan media selama ini. Ketakutan yang membuat Julia akhirnya menutup akses dengan media terkait suaminya selama bertahun-tahun. Penjiwaan Rianti yang dalam saya rasakan hingga membuat hati saya menangis. Bagaimana rasa bersalah sudah berburuk sangka pada suami yang ternyata sangat menyayangi, bukan hanya pada keluarga, namun juga pada non Muslim yang notebane sudah bersikap kasar padanya.

Apresiasi juga saya berikan pada Stefan. Nino Fernandez benar-benar mampu menghidupkan roh film ini. Aktingnya mampu mencairkan ketegangan penonton karena tema WTC. Ucapan dan sikap konyolnya namun tidak membosankan membuat penonton tertawa namun disaat yang sama terpana dengan pertanyaannya tentang Islam. Keegoisan sosok pria barat yang meremehkan institusi pernikahan ini akhirnya runtuh ketika mendengar pidato Brown bahwa sesukses apapun tidak akan ada artinya tanpa keluarga.

Landskap film ini sangat bagus. Bagi orang yang belum pernah pernah ke New York seperti saya, film ini menampilkan citra sebuah kota apa adanya. Modernitas sebuah kota ditunjukkan pada gedung perkantoran dan gairah bisnis, namun sisi kelam kota ditunjukkan juga pada gang dan ruang belakang rumah Julia yang tampak kumuh, penuh dengan barang-barang. Film yang baik adalah film yang menunjukkan sisi kemewahan dan kemiskinan dalam waktu bersamaan.

Bulan terbelah benar-benar menggambarkan bagaimana carut marutnya hubungan Muslim dan Non Muslim, bagaimana ketika emosi sudah mempengaruhi hubungan suami istri. Namun lagi-lagi kebesaran hati mampu menyelesaikan masalah, serumit apapun itu.

Film ini betul-betul mengungkap kisah tragedi WTC dari sisi lain. Menampilkan citra Islam yang sesungguhnya tanpa kekerasan dan keangkuhan, menampilkan nilai-nilai kebaikan dalam ajaran Islam tanpa membalas orang yang sudah menyakiti. Ketika akhirnya muncul kesadaran APA dan BAGAIMANA ISLAM ITU SESUNGGUHNYA, itu adalah proses perjalanan panjang seorang Muslim sebagai Khalifah di bumi Allah.

APAKAH DUNIA AKAN LEBIH BAIK TANPA ISLAM? Apakah kita harus kehilangan kebanggaan akan Islam hanya karena ulah segelintir orang? Jawabannya akan Anda temukan dalam visualisasi karya Rizal Mantovani ini.

2 thoughts on “[Film]Wulan Sigar Nang Langit Amerika”

  1. Gaya penulisan cerdas dan inspiring. Mengalir kyk air menyejukkan kak, keep on moving utk rasa yg dimunculkan dlm artikel.Penting bergumul dgn frase dan diksi….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: