slide-new-4

Era teknologi semakin melesat bak meteor. Disadari atau tidak, perkembangan yang sangat cepat ini membawa dampak baik dan buruk, seperti dua sisi mata uang. Bagaimana tidak, belum juga kita istirahat sudah muncul teknologi baru atau sistem operasi komputer jenis baru. Nah, bagi orang yang tidak siap pasti akan mudah mengalami gegar budaya. Kaget dengan teknologi, gagap menggunakan hingga akhirnya berujung pada ketidakseimbangan gaya hidup.

Disinilah peran keluarga sangat menentukan. Orangtua sebagai soko guru anak pertama kali, tentu harus mempunyai bekal ilmu dan pengalaman tentang teknologi yang tinggi agar mampu mencegah efek negatifnya pada anak. Tanpa peran serta orangtua dan lingkungan sekitar, teknologi yang harusnya diperuntukkan demi kemudahan beralih fungsi menjadi bom waktu pembunuh karakter anak.

Kekerasan pada anak melalui games inilah yang menjadi salah satu topik pada acara Ramadhan Bincang Anak 1437 H di Lantai 13 Gedung Sarinah, Jalan MH.Thamrin. Menghadirkan KAMI – Koalisi Anak Madani Indonesia, KPAIPendongeng Kak Iman dan boneka Titu-nya, PMR dari berbagai sekolah serta KOPI sebagai komunitas blogger yang menghadirkan berita baik untuk Indonesia. Lantas, apa saja sih yang harus diperhatikan dalam memilih teknologi games untuk anak?

Tips Teknologi Ramah Anak  :

  1. Kenali Teknologi : Baik anak mau orangtua harus sama-sama mengenali teknologi dan perkembangannya. Walau tidak secara keseluruhan, namun orangtua harus mempelajari terlebih dahulu teknologi apa yang akan digunakan oleh anak. Kita ambil contoh pada games di komputer/gadget. Tonton sampai habis gamesnya, periksa apakah ada adegan kekerasan yang mengumbar pada pembunuhan dan intimidasi lainnya. Pada beberapa games ditemukan beberapa adegan pembunuhan, pemerkosaan bahkan diajarkan bagaimana cara untuk (maaf) ML dengan korbannya. Bahkan pada games yang pernah saya lihat sekilas, ketika ada adegan peperangan, pemain yang menang mendapat hadiah boleh melakukan ML dengan seorang perempuan. Nauzubillahmindzalik. Maka daripada itu, orangtua harus waspada karena pembuat games sangat pintar memasukkan unsur kekerasan dan seksual di tengah – tengah permainan. INTINYA, harus tonton dan periksa terlebih dahulu!
  2. Bekali Dengan IMTAQ  : Teknologi dibuat untuk memudahkan kerja dan membuat manusia pintar. Namun, realita penggunaannya banyak menyimpang dari lur yang seharusnya. Karena itu, salah satucara paling ampuh adalah membekali anak dengan iman dan takwa. Apapun agama yang Anda anut, bekali mereka dengan nilai-nilai agama dantekankan bahwa, ” Tuhan memberikan kelengkapan panca indera untuk digunakan pada kebaikan, bukan sebalikanya. Mama dan ayah tidak bisa mengawasi dan mendampingi kalian terus-menerus, tapi ada Tuhan yang selalu melihat untuk apa saja anggota tubuh kamu digunakan”. Jangan bosan tanamkan sedikit demi sedikit tentang nilai-nilai etika dan norma sebagai bekal tambahan agar mereka mempunya persiapan bekal yang kuat. Sehingga teknologi serusak apapun, anak sudah mempunya filter yang kuat untuk menolaknya.
  3. Komunikasi  : Sesibuk apapun Anda sebagai orangtua, tolong sediakan waktu khusus setiap harinya untuk mendampingi dan berkomunikasi dengan mereka. Pilih tempat yang nyaman (dirumah atau diluar), ajak bicara dari hati dengan santai, apa alasan dan tujuan mereka memainkan games. Gali terus apa yang sudah mereka ketahui tentang games dan tanamkan kejujuran agar tidak menyembunyikan apapun dari Anda sebagai orangtua. Komunikasi yang baik dan intens akan membuat keterbukaan dan hubungan anatar orangtua dan anak semakin rekat. Namun, ketika anak Anda memang mempunyai bakat mengotak-atik games (games edukasi), dukung dan fasilitasi semampu Anda. cari peluang agar anak Anda bisa lebih berkembang dan mengikuti kompetisi untuk meningkatkan kemampuannya.
  4. Baik vs Buruk  : Teknologi mempunya dua sisi mata uang, baik dan buruk. Baik ketika manusia menggunakannya untuk kebaikan, namun buruk ketika otak tidak mampu memilah mana yang baik dan buruk. Games tidak selamanya buruk. Ada beberapa games edukasi yag memang dirancang untuk meningkatkan kemampuan anak dalam bidang matematika, IPA dan kemampuan sosial. Nah, arahkan anak untuk menyenangi games seperti ini. Namun, ketika anak terlanjur terpengaruh lingkungan addict pada games kekerasan, pelan-pelan arahkan untuk menyenangi games yang lebih baik.

Jadi, amankah games untuk anak? AMAN, jika orangtua dan anak bisa memilah games yang positif demi peningkatan kemampuan positif anak. Salah satunya adalah Hakim, siswa usia 11 tahun yang berhasil membuat games Hunter Mosquito dibawah bimbingan Clevio Coder Camp : Kursus Programming Edu-Games Untuk Anak. TIDAK AMAN, jika games kekerasan dan mengandung unsur pornografi yang menjadi pilihan. Semua kembali pada kesiapan keluarga untuk memberikan bekal penanaman nilai-nilai kebaikan pada anak, agar mereka mampu mem-filter mana yang baik dan yang buruk.

#SalamSejutaSemangat Untuk keluarga Indonesia.

2 thoughts on “Games Untuk Anak, Amankah?”

  1. Harus hati-hati ya sekarang memberikan gadget kepada anak. Lebih baik diarahkan ke hal yang bermanfaat seperti belajar membuat games yang edukatif. Pengen deh ajak anak belajar di Clevio nanti.

    1. Betul Mbak Nurul. Games atau internet bisa digunakan untuk hal yang positif, tergantung bimbingan ortu juga ya. Dan Clevio salah satu bukti lembaga yang concern pada minat anak ada IT.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: