hangout

Asli pakai suer pas melihat poster film HANGOUT saya berharap kali ini bisa melihat Raditya Dika memakai baju “formal dan serius.” Lah, coba bayangkan film-filmnya selalu bergenre komedi, boleh dong saya punya harapan harapan lain? Sebagai alumni Stand Up Comedy, bukan berarti harus main komedi yang mengocok perut terus, dong? Ya sekali-kali Raditya kan bisa bermain film bergenre drama atau justru action dengan wajah yang berbeda dari biasanya? Tapi kali ini saya sangay-sangat kecewa karena tidak menemukan harapan itu. Kali ini saya harus marah karena…

SAYA KECEWA

Ya, lagi-lagi saya harus menelan pil kekecewaan karena Raditya tega-teganya bekerja sama dengan RAPI FILM, memproduksi film yang sangat-sangat bagus. Saya kecewa, kenapa nggak dari dulu ide cerita ini diangkat ke layar lebar? Kenapa baru menjelang akhir tahun malah ditayangkan? Apa arena Raditya dan RAPI FILM mau memberian kado akhir tahun yang terbai untuk penonton? Ya soalnya yang benar saja dong, poster filmnya berhasil mengecoh saya sih. Dalam poster dikesankan filmnya serius dengan aroma thriller yang penuh dengan psikopat. Tapi ternyata, film ini jauh lebih is the best waktu ditonton, asli pakai banget. Film ini ternyata unik karena pemainnya lintas generasi ; Mathias Muchus mewakili generasi 80-an, Surya Saputra, Soleh Solehun, Gading Marten dan Titi Kamal mewakili generasi 90-an, sedangkan Dinda Kania Dewi, Bayu Skak dan Prilly Latuconsina mewakili generasi milenium.  Lagi – lagi saya kecewa karena Raditya pintar sekali memilih komposisi pemainnya, mulai dari usia, karakter, hingga aktingnya yang total secara keseluruhan.

hangout2

Film karya Raditya ini memang beda sih dengan filmnya yang lain. Mulai dari pemilihan lokasi di tengah hutan dan laut dengan pemandangannya yang aduhai. Cara pengambilan gambar yang bagus karena kamera tidak goyang, bahkan ketika adegan berlari sekalipun. Mata penonton benar-benar dimanjakan dengan kameramen yang lihai ketika mengambil gambar. Nah, untuk musik juga, aduh saya benar-benar kecewa. Soundtrack musik film ini harusnya masuk nominasi FFI karena keren abis. Sepanjang durasi film saya benar-benar terkesima dengan musiknya. Ketika adegan menegangkan, musik dihadirkan dengan beat yang tinggi. Ketika adegan kocak, musik berganti dengan alunan campuran modern dan tradisional, bahkan ada iringan musik orkestra, loh. Keren abis deh, Radityaberhasil membuat saya kecewakarena tidak memiliki kumpulan CD soundtracknya.

CERITANYA TENTANG APA YA?

HANGOUT adalah film bergenre drama thriller sekaligus komedi. Bisa bayangin nggak film dengan dua jenis yang berbeda aliran menyatu dalam sebuah film? Asli pake sumpah, dari mulai main sampai akhir film saya tertawa lepas. Di saat adegan tegang dengan musik beat tinggi tiba-tiba terselip dialog lucu dengan ekspresi wajah pemain yang datar. Nah, bagaimana penonton tidak tergelak melihat akting pemainnya? Film ini sebenarnya bercerita tentang 9 orang yang mendapat undangan HANGOUT dari seorang pengusaha bernama Tony. Undangan berhadiah uang puluhan juta tentu menggiurkan siapapun. Maka berangkatlah kesembilan orang tersebut ke sebuah pulau. Sepanjang perjalanan gelak tawa terdengar oleh tingkah Dinda Kania Dewi yang mempunyai kebiasaan jorok memegang ketiak dan mencium baunya..hiiii. Namun, baru saja tiba dan saat makan malam, ketegangan mulai terjadi. Obrolan santai yang akrab ternyata hanya berlangsung beberapa saat. Ketika Mathias Muchus mulai menyuapkan makanan ke mulut, saat itulah tragedia terjadi. Kejang, tangan memegangi leher seperti tercekik, bahkan hingga keluar busa dari mulut. Dan meninggal. Semua peserta panik, takut dan akhirnya menyimpan mayat Mathias di gudang.

Satu demi satu ketegangan mulai muncul. Kejadian aneh dan ajaib mulai mendatangi peserta tanpa diketahui siapa pelakunya. Dan satu persatu peserta tiba-tiba mati terbunuh, dengan luka panah dan hujaman pisau. Ngeri, panik, hingga menimbulkan prasangka pada satu sama lain, apakah pembunuhnya salah satu dari peserta. Titik terang sebenarnya mulai terlihat ketika Bayu Skak menemukan kejanggalan di tas peserta. Namun, belum juga berhasil memecahkan misterinya, Bayu sudah terbunuh. Pesan film ini sangat menyentuh. Bagaimana seharusnya kita menjalin pertemanan. Tidak seharusnya masalah dipendam sendiri tanpa ada satupun teman yang tahu. Teman adalah saudara dekat, dan akan siap ada mendampingi apapun keadaan temannya. Jika tidak ada keterbukaan yang tulus, bagaimana sebuah pertemanan akan berakhir pada kebahagiaan? Maka, jangan biarkan kecemburuan, kepicikan, dan diam seribu bahasa menjadi kebiasaan sehari-hari yang akhirnya akan merugikan diri sendiri dan lingkungan.

Lantas, bagaimana kelanjutan film ini? Siapa pembunuh yang sebenarnya? Untuk penggemar Raditya Dika, mau melihat bagaimana akting sekaligus hasil film yang disutradarainya kali ini ? Mau melihat bagaimana komedian main film thriller, apakah menegangkan atau justru membuat Anda tertawa? Yukk mulai 22 Desember 2016 film ini sudah mulai tayang. Menjelang liburan nih, ajak pasukan sekalian ya. Keluarga, teman, sahabat, tetangga, pak RT, Pak RW bila perlu buat dong acara nobar untuk rekan sekantor/organisasi/sekolah. Sudah menjelang akhir tahun nih, saatnya melepaskan beban kerja dan sekolah sejenak untuk persiapan menyambut tahun 2017.

Are you ready? 😉

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: