DSCN2192

Berbicara tentang film bukan hanya berbicara bisnis industri perfilman. Berbicara film juga berbicara tentang tentang orang-orang yang terlibat di dalamnya, tentang emosi, tentang kemanusiaan. Karena sejujurnya, tanpa bicara tentang human, sebuah film akan kehilangan ruhnya. Kehilangan esensi film sesungguhnya dan hanya akan menjadi sebuah tontonan tanpa bisa meninggalkan jejak di hati penonton.Inilah yang disadari betul oleh produser, pemain dan semua kru yang terlibat dalam film I AM HOPE. Ketika esensi dan tujuan film sudah dijiwai, maka alur pergerakan film mulai dari produksi sampai tayang akan selalu melibatkan orang-orang didalam dan di luar lingkaran film. Dan tim I AM HOPE tahu betul bagaimana menghadirkan film ini dan meninggalkan jejak dalam sejarah perfilman Indonesia, jauh sebelum film ini tayang di bioskop. Dan “JOURNEY of HOPE” adalah buktinya.

Mengambil lokasi di ruang anak RS KANKER DHARMAIS, Selasa 19 Januari 2015 Tim I Am Hope mengadakan gerakan “Journey of Hope”, sebuah gerakan berbagi pada anak-anak penderita kanker, leukimia dan tumor. Sebuah gerakan sederhana dengan mengajak anak-anak bergembira bersama badut. Acara yang berbalut tawa dan canda bertabur hadiah. Jujur, cara sederhana seperti inilah yang dibutuhkan anak-anak survivor dan orangtua mereka. Bukan hal yang mudah bagi survivor untuk menerima kenyataan pahit menerima anugerah indah dari Tuhan. Dan bukan hal yang ringan bagi orangtua menerima kenyataan buah hati mereka memiliki kelebihan lain dari anak normal lainnya. Lelah hati, emosi yang berkecamuk antara sedih, marah dan menangis memberontak. Dukungan moril dan materil inilah yang diperlukan mereka agar mereka memiliki kekuatan untuk bangkit dan mengatasai penyakit. Kekuatan bahwa mereka tidak sendiri, ada saudara-saudara diluar sana yang siap membantu mereka.

KANKER

Kekuatan berbagi sesungguhnya sangat diperlukan seperti Ibu Suryani, ibu dari M.Rafa Riyaki, 2 tahun) penderita tumor testis yang baru 2 hari di rumah sakit. Atau Muhammad Nur Agisna, bocah usia 2 tahun penderita kanker mata, putra bapak Eman Hermansyah. Bagaimana keadaan ekonomi yang pas-pasan bahkan cenderung kurang makin membuat nafas mereka tertahan ketika menerima kenyataan bahwa anak mereka menderita sakit berat. Journey of Hope inilah yang mereka butuhkan. Hadir di tengah mereka, saling bercerita dan berbagi bisa memberikan kekuatan tersendiri, terutama untuk para orangtua agar mereka tetap kuat mendampingi anak-anaknya.

 

Film I Am Hope sendiri mengangkat kisah mengangkat kisah  Mia ( Tatjana Saphira), 23 tahun yang ingin membuat pertunjukan teater. Namun, disinilah konflik mulai muncul. Bagaimana mungkin membuat pertunjukkan sedangkan Mia sendiri divonis sakit kanker, penyakit yang sama yang merenggut nyawa ibunya? Namun, sekali lagi, para survivor sangat membutuhkan bantuan orang-orang di sekitarnya untuk bertahan. Dan keinginan Mia takkan bisa terwujud tanpa bantuan David, laki-laki yang ditemuinya dalam sebuah pertunjukkan. David, yang diperankan oleh Fachry Albar, yang membantu Mia menyerahkan naskahnya pada sutradara Rama Sastra. Sosok Rama sangat cocok diperankan Ariyo Wahad mengingat penampilan Ariyo dengan cambang dan topi petnya, identik dengan penampilan sutradara pada umumnya.

kanker2

Keuangan keluarga yang memburuk karena membiayai sakit ibunya, membuat Mia dan ayahnya, diperankan Tio Pakusadewo hidup sangat sederhana, padahal mereka awalnya dari keluarga kaya. Kekuatan kasih sayang dan rasa bahagia inilah yang ingin ditunjukkan film ini. Totalitas akting benar-benar ditunjukkan oleh Tio Pakusadewo dan Tatjana dalam adegan ketika mereka berpelukan dijalan. Sungguh, adegan dimana Tio memeluk Tatjana dengan kepala plontosnya makin membuat film ini seolah-olah nyata. Namun, kekuatan cinta seorang ayah yang ingin membahagiakan putrinya ini yang mampu membolak-balikkan hidup dan memberi kekuatan Mia. Sebagaimana yang dikatakan Ariyo Wahab dalam konferensi pers kemarin,” KEBAHAGIAAN ADALAH SATU-SATUNYA CARA MENJALANI HIDUP”.

kanker4

Dan acara Journey of Hope kemarin menjadi salah satu bukti kesungguhan Wulan Guritno, Amanda Soekasah dan Ghea Soekasah selaku inisiator Gelang Harapan. Melalui program menjual gelang hand made dari kain perca ini, Wulan dkk ingin membangkitkan semangat hidup survivor kanker. Sejatinya, siklus hidup akan selalu berputar. Survivor membutuhkan orang lain untuk memberi semangat hidup, dan orang sehat membutuhkan survivor agar mereka dapat lebih menghargai dan memaknai apa itu hidup sehat sebenarnya. Bahwasanya kekuatan cinta dan kebahagiaanlah yang dapat menyelamatkan hidup.

 

Oh ya, kalau mau nonton film ini, siapkan tissu yang banyak ya karena d

ipastikan Anda akan menangis sepanjang film diputar 😉

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: