Realita Sosial di Indonesia

Semakin tinggi tingkat modernitas sebuah negara, semakin tinggi pula tingkat kejahatan dan masalah sosialnya. Berbagai kasus sosial marak seiring dengan besarnya jurang si kaya dan si miskin. Kesenjangan sosial, pekerjaan dan tingkat pendidikan turut mempengaruhi besarnya tingkat masalah sosial di negara berkembang. Demikian pula dengan Indonesia, negara dengan populasi rakyat yang mencapai l.k 255 juta jiwa tentu mempunyai masalah sosial yang tidak sedikit. Mulai dari kasus kemiskinan, anak putus sekolah, PSK, pengangguran, penyakit sosial, dan berbagai masalah sosial lainnya antri menunggu sentuhan pemerintah dan lembaga sosial lainnya.

Masalah sosial yang tidak bisa dianggap sepele mengingat efeknya yang luar biasa jika tidak ditangani dengan intens dan perhatian penuh.
Kasus kekerasan pada perempuan (KTP) mencapai 321.752 kasus, dimana 305.535 kasus bersumber dari Pengadilan Agama atau Badan Peradilan Agama ( PA-BADILAG) DAN 16.217 kasus dari Lembaga Layanan Mitra Komnas Perempuan (Sumber : Komnasperempuan.go.id). Sedangkan kasus kemiskinan dari data yang berhasil dihimpun pada bulan Maret 2016 oleh BPS mencapai 28,01 juta jiwa atau 10,86 persen dari total jumlah penduduk. Hal ini tentu menjadi lampu merah bagi pemerintah mengingat sebagai negara berkembang, Indonesia akan terganjal pertumbuhan ekonominya jika masalah sosial tidak tertangani dengan baik.

Pekerja Sosial atau Relawan?

Tolak ukur keberhasilan pemberantasan masalah sosial memang menjadi tanggung jawab pemerintah. Namun sebagai pemangku kebijakan,pemerintah tidak dapat menjalankan tugas mensejahterahkan rakyatnya, tanpa bantuan tim pendukung yang solid. Tim pendukung ini bisa terdiri dari pekerja sosial atau relawan yang diangkat oleh pemerintah sesuai kebutuhan.
A. Relawan DigitaL
Kak Arul Muchsen,seorang aktivis BK3S dan KAMI sekaligus penggagas KOPI (Koalisi Online Pesona Indonesia) yang sukses menggelar Workshop Relawan Sahabat Anak 2014 lalu mengatakan bahwa dunia relawan berbasis platform IoT atau Internet On Things memicu lahirnya banyak aktivis Jempol atau di KOPI disebut dengan SEPOL (Serdadu Jempol).
Mereka tidak hanya buzzer dengan sekian banyak akun medsos plus bloggers sehingga para netizen menerima konten tidak hanya tweetan belaka. Jarimu adalah mindset, you are what u tweer. Anda sudah menjadi relawan era digital yang berempati lewat media sosial dan buzzer terhadap semua persoalan sosial dengan cerdas.
Relawan hadir karena panggilan jiwa semata untuk berbagi dengan sesama. Berasal dari perseorangan atau organisasi, relawan tidak terikat pada aturan pemerintah, dimana landasan mereka bekerja dari kemauan atau AD/ART organisasi tempat mereka bernaung. Cara bekerja relawan biasanya berdasarkan pada keagamaan atau kemanusiaan. Relawan bekerja tanpa pamrih, dengan sifatnya berbagi demi kepuasan batin.

B. Pekerja Sosial disingkat Peksos
Jika relawan tidak terikat pada UU Pemerintah, tidak demikian dengan pekerja sosial. Dasar seorang pekerja sosial adalah Pendidikan Profesi Pekerjaan Sosial dengan ijazah kompetensi lulusan Pekerja Sosial. Visi, tujuan dan target kerjanya sudah ditentukan oleh lembaga tempatnya bernaung. Seorang pekerja sosial tidak bisa bekerja semaunya sendiri karena terikat dengan kode etik pekerjaan sosial. Inilah yang membuat pekerja sosial ketika berhadapan dengan warga binaan harus sudah dibekali dengan metode dan teknik khusus menghadapi masyarakat. Tugas pekerja sosial bisa dibilang mudah namun juga tidak mudah. Mudah apabila bertemu dengan warga binaan yang kooperatif, namun tidak mudah jika menemukan orang-orang yang hidup semaunya sendiri tanpa keinginan untuk hidup lebih baik. Mengubah pola pikir dan perilaku warga binaan yang heterogen perlu persiapan mental yang sangat besar. Karena faktanya sebesar apapun bantuan yang diberikan pekerja sosial, jika warga binaan sendiri tidak aktif, tentu hasil yang diperoleh tidak maksimal. Seorang pekerja sosial harus mampu membaca situasi, kapan memberikan layanan sosial yang bersifat pencegahan, penyembuhan, pengembangan dan pemberian dukungan pada warga binaan. Baik melalui komunikasi, penelitian, mendiagnosis masalah hingga pada tindak pencegahan dan penyelesaiaan atas kasusnya. Sudah pasti seorang Peksos adalah relawan yang seharusnya berplatform IoT dalam bekerja yang jago menulis.

Titik Balik

Indonesia pasti mampu mengatasi masalah sosialnya jika pemerintah menggandeng dan bersinergi dengan relawan dan pekerja sosial dengan kekuatan penuh. Gandeng semua lapisan masyarakat dari berbagai lintas profesi demi hasil yang maksimal. Sekecil apapun sumbangsih yang diberikan, akan terasa efek luar biasanya jika dalam jumlah besar.

Sebagaimana yang dikatakan Kak Sonya, seorang ibu rumah tangga dan blogger,”Karena berbagi bukan hanya soal materi. Dengan segala keterbatasan saya maka “JEMPOL” adalah alat yang bisa saya gunakan untuk do something – menyebarkan informasi yang benar, menyampaikan opini, mengkampanyekan pesan tertentu, mempersuasi, dll.”

Sudah saatnya Indonesia memiliki jaringan relawan yang lebih banyak jumlahnya dan tersebar merata di seluruh Indonesia. Tahun 2017 sudah di depan mata, semakin menngkatnya kualitas hidup warga binaan sosial tentu tidak semudah menjentikkan jari. Karena dibutuhkan partisipasi semua pihak, mulai dari hulu hingga hilir.

Hal itupun diaminkan oleh Kak Nuty, seorang blogger yang sangat konsen pada bidang Internet Marketing.

Menurutnya Serdadu Jempol adalah Peksos Indonesia 4.0, saatnya jadi Relawan WBS yang berbasis IoT siap bersinergi dengan pemerintah demi meningkatkan kualitas hidup WBS.

Menurut Anda…..?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: