toko

Apa yang kita harapkan sebagai orangtua pada anak? Meminta anak menuruti semua kata dan keinginan kita? Marah ketika anak tidak menurut dengan dalih kata orangtua harus dituruti? Dan akhirnya menghukum mereka dengan kata dan tindakan yang menyakitkan? Ahh, kadang kita sebagai orangtua suka egois ya? Sadar atau tidak kita kadang suka menyalahgunakan status sebagai orangtua untuk menekan ego anak. Menekan keinginan anak dengan dalih disiplin dan masa depan. Padahal kita lupa terkadang kita justru mengkerdilkan perasaan anak pada titik terendah.

Atau justru kita semakin besar kita lupa memaknai kebersamaan bersama orangtua? Sibuk mengejar pendidikan dan karir hingga lupa bertanya apa yang membuat orangtua kita bahagia? #CEKTOKOSEBELAH menampar wajah saya hingga tak tahu lagi warna aslinya. Sepanjang film saya memang tertawa lepas bersama penonton lain, tapi jauh di dalam hati, ada yang menusuk. Perasaan sebagai seorang ibu terasa teriris ketika melihat seorang ayah kesepian, apakah itu yang bapak saya rasakan ketika anaknya besar? Ingin memeluk dan bercengkerama tapi justru saya lari ke pelukan teman dan bercanda dengan mereka sepanjang masa? Apa itu pelarian karena ada perasaan terluka sebagai anak karena orangtua memaksakan kehendaknya padahal saya sudah punya impian dan rencana lain?

#CEKTOKOSEBELAH. Aku, Koh Ah Fuk (Chew Kin Wah) merasakan kesepian. Mengelola toko kelontong dengan beberapa karyawan di tengah kesehatan yang menurun. Istri meninggal, anak sibuk dengan dunianya sendiri, Yohan (Dion Wiyoko) yang sibuk sebagai fotografer, dan Erwin (Ernst Prakasa) yang berhasil dalam karirnya. Wajah lelah dengan tubuh yang kian membungkuk, mengingatkanku pada sosok para kepala keluarga yang berjuang mencari nafkah demi keluarga. Letih tak dihiraukan, panas hujan diterjang demi mendapatkan lembaran rupiah, bahkan sakitpun terlupakan agar anak dan istri tetap bisa makan. Aku tetap manusia biasa, punya lelah dan ingin tetap perkasa di depan anak-anakku. Tapi lagi-lagi aku harus mengakui, generasi kami sudah berbeda, cara pandang kami berbeda, mengapa aku harus memaksakan kehendakku pada anak?

#CEKTOKOSEBELAH membuatku terpuruk. Status anak sulung ternyata tidak menjamin aku berhasil dalam hidup. Aku punya hak untuk dihormati, didahulukan dalam segala hal, kenapa justru adikku yang mendapatkannya? Apa karena masa laluku yang pernah kelam, hingga membuat papah tak percaya? Aku sayang papah, ingin meneruskan usaha papah, tapi kenapa justru Erwin yang harus selalu dipilih papah?

#CEKTOKOSEBELAH sudah mengantarku menjadi orang yang berhasil. Karir cemerlang bahkan akan menapaki karir di luar negeri. Karir bagus, calon istri yang sejajar, dan atasan yang baik sekaligus anak kesayangan papah. Apalagi yang kurang? Tapi kenapa hubunganku dengan Koh Yohan justru semakin memburuk, tidak seperti waktu kami masih kecil?

#CEKTOKOSEBELAH membuat kami tersadar. Hubungan antara keluarga adalah yang paling utama. Harta bisa dicari tapi keakraban dan keterikatan hati, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada masa-masa kebersamaan ketika susah, ada masa kami tertawa lepas. ada saat kami sedih melihat perjuangan papah mamah membangun toko. Lantas kenapa ketika kesuksesan kami terima, kami lupa pada nilai-nilai akar keluarga? Akar dimana kami tumbuh dan menjalani hidup dengan landasan iman dan nilai sosial? Lantas, mengapa perjalanan hidup kami harus kalian tonton? Kenapa kalian harus belajar dari kehidupan kami? Kalian akan tahu teman, perjalanan kami yang naik turun akan membuatmu belajar ; apa arti keluarga, bagaimana bentuk cinta yang tulus, kalian akan belajar bagaimana bentuk pengorbanan orangtua dan anak. Lihat dan ambil hikmah dari perjalanan hidup kami. Jangan lupakan akar keluarga, apapun yang akan terjadi dalam kehidupan kalian.

Kami tunggu kalian di halaman #CEKTOKOSEBELAH tanggal 22 Desember 2016 di jaringan bioskop Indonesia ya. Jangan lupa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: