IMG20171107081214

Siapa sih yang mau sakit meski hanya sakit ringat? Siapa yang mau tampil cantik dan langsing terutama bagi perempuan? Sehat itu mahal, loh. Nggak percaya? Coba cek berapa berat tubuh Anda sekarang? Sudah proporsionalkah, masih terlalu kuruskah atau justru berlebihan alias overweight?

Data terbaru memberikan informasi yang mengagetkan kita semua. Sejak tahun 1980 tingkat penderita obesitas meningkat dua kali lipat. Tahun 2014 lebih dari 1,9 miliar orang di atas usia 18 tahun kelebihan berat badan, dimana 600 juta diantaranya menderita obesitas. Sedangkan perempuan lebih banyak menderita obesitas dibandingkan pada laki-laki. Berat badan tertinggi diketahui terdapat di Amerika dan terendah di South-East Asia, dimana ternyata kelebihan berat badan dan obesitas menjadi penyebab kematian dbandingkan dengan berat badan yang kurang.

Menurut data obesitas masuk dalam urutan ketiga sebagai penyebab gangguan kesehatan kronis. Obesitas bukan hanya menimbukan gangguan sakit pada penderitanya saja namun juga memberikan dampak pada ekonomi global hampir $ 2 triliun, hampir setara dengan merokok dan perang. Darimana angka ini didapat? Dari biaya kesehatan dan biaya terkait hilangnya produktivitas penduduk akibat obesitas.

Penyebab Obesitas

  1. Makan terlalu banyak ; pada beberapa kasus orang makan melebihi porsi kebutuhan tubuhnya. Dengan dalih lapar, mengambil makanan dalam jumlah yang tidak kira-kira. Padahal seringnya tidak habis. Kalaupun habis biasanya orang tersebut dalam kondisi kekenyangan dan susah bernafas. Inilah yang menyebabkan tubuh tidak mampu mengolah semua bahan karena terlalu padatnya pencernaan. Lapar mata sering menjadi penyebab orang mudah lupa berapa sebenarnya kapasitas kebutuhan perutnya.
  2. Aktivitas fisik Berkurang ; dengan kemajuan tingkat ekonomi per kapita, orang mudah mengeluarkan uang  untuk membeli makanan yang disukai tanpa terlalu memikirkan apakah bergizi atau baik untuk tubuhnya. Dan lebih parah lagi dengan fasilitas yang serba modern membuat orang malas bergerak, bahkan hanya untuk sekedar berjalan beberapa meter. Makan banyak tanpa dikontrol, kurang olahraga, aktivitas fisik berkurang, membuat timbunan lemak bertambah. Jika pola gerak sehari-hari tidak segera diubah bisa dipastikan hanya dalam hitungan tahun badan akan melebar kemana-mana. Jadi, bergeraklah, lakukan aktivitas fisik meski fasilitas makin modern. Jika bisa berjalan melewati tangga mengapa harus naik lift?

Faktor Pengaruh Terjadinya Obesitas 

  1. Genetik ; faktor ini menjadi salah satu penyebab obesitas karena terkait dengan gen. Jika pembawaan genetik keluarga ada yang gemuk, maka besar kemungkinan ada anggota keluarganya juga yang nantinya gemuk. Demikian pula sebaliknya.
  2. Psikologis ; hal ini erat kaitannya dengan masalah emosi. Jika seseorang – biasanya perempuan- sedang dalam kondisi emosi yang tidak stabil biasanya melarikan diri ke makanan sebagai pelampiasan. Makan tanpa kenal waktu dan jumlahnya  melebihi ukuran yang dibutuhkan. Jika ini dilakukan terus-menerus maka sensor kenyang dalam tubuh akan melemah. Inilah sebabnya kenapa orang yang sedang dalam emosi labil – mudah emosi, marah dan menangis/melankolis-mudah melampiaskan emosinya pada makanan.
  3. Lingkungan ; pada beberapa kasus obesitas, lingkungan mempunyai andil yang cukup besar untuk menyuburkan jumlah obesitas. Ketika anggota keluarga banyak yang bertubuh subur, maka obesitas selalu dibenarkan dengan alasan faktor keturunan. Ketika lingkungan mengatakan bahwa badan gemuk itu tanda orang makmur, maka si badan kurus selalu diidentikkan dengan kurang makan atau sedang stres. Masyarakat cenderung mentolerir kegemukan seseorang daripada kekurusannya. Bagi orang yang tidak percaya diri maka dukungan dari lingkungan inilah yang sering menjadi penyebab lumrahnya obesitas.

IMG20171107091037

Cara Mengukur Obesitas

  1. Mengukur Indeks Massa Tubuh (IMT) :

IMT = BB (kg) : TB (m) x TB (m)

*Obesitas I   :  IMT = 25,0 – 29,9

*Obesitas II  : IMT > 30

2. Mengukur Lingkar Perut  :

– Laki-laki  > 90 cm             – Perempuan > 80 cm

Cara Penanganan Obesitas  :

1. Mengubah Gaya Hidup   ;

a. Mengatur pola makan dengan 3x makan utama dan 2x selingan

Makanan utama : kentang rebus, jagung rebus, ikan, ayam tanpa kulit, putih telur dan daging tanpa lemak.

Makanan selingan  :  buah-buahan berair yang utuh, tidak di jus. Minuman ; air putih atau tawar, susu rendah lemak

b. Lakukan aktivitas fisik berjalan kaki minimal 10 menit/hari, kemudian ditingkatkan waktunya menjadi 30 menit/hari.

2, Lakukan pemeriksaan di Puskesmas atau pelayanan kesehatan terdekat ; tekanan darah, gula darah, kolesterol dan asam urat.

3. Konsultasi pada ahli medis untuk terapi lebih lanjut.

Dampak Obesitas 

>> Diabetes Melitus tipe 2, penyakit jantung koroner, hipertensi dan stroke, penyakit kandung empedu, Osteoarthritis (radang sendi) lutut dan panggul, Asam Urat dan Gout, Kanker (kanker payudara pada perempuan menopause, kanker endomatrial dan kanker usus), hormon reproduksi abnormal, Polikistik Ovarium sindrom, nyeri ppunggung belakang dan perlemakan hati.

IMG20171107082742

Kementerian Kesehatan sebagai instansi pemerintah yang konsen pada kesehatan masyarakat tentu mengharapkan partisipasi masyarakat untuk peduli pada kesehatan, terutama kesehatan diri sendiri. Selasa, 07 November 2017 Kementerian Kesehatan mengadakan acara di hotel Harris “Seminar Hari Obesitas Sedunia” dari Kementerian Kesehatan RI. Seminar dihadiri oleh petugas kesehatan perwakilan dari puskesmas, instansi kesehatan, blogger dengan narasumber oeh Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) ibu dr.Lily S.Sulistyowati, MM, dr.Ida Gunawan, MS.Sp.GK (K), Dr.Michael Triangto, SpKO, juga drg.Dyah Erti Mustikawati,MPH serta Dr.(c)Rita Ramayulis,DCN,M.Kes selaku Pengurus DPP Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI).

Dengan kampanye kurangi obesitas, diharapkan masyarakat mulai peduli akan bahaya dan bagaimana cara mencegah obesitas. Karena jika kampanye ini berhasil, maka bukan saja masyarakat yang bsia hidup sehat, pemerintah pun berhasil meningkatkan daya tahan kesehatan warga.

 

One thought on “Jangan Mau Diabetes”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: