Teman, kita tinggal di negara yang sama, di tanah Indonesia yang kaya akan kekayaan alamnya. Makan, minum dan menghirup udara yang sama. Bahkan kadang kita berbagi tawa dan tangis yang sama, karena bencana dan kegembiraan datang silih berganti. Ketika saudara di ujung timur kena bencana, kita serempak mengirimkan doa dan bantuan semampunya, ketika saudara di Pulau Jawa terkena longsor serentak relawan organisasi masyarakat, perseorangan, lembaga amal, silih berganti mengirimkan tenaga relawan dan bantuan pangan dan pakaian.

Idul Fitri tiba, kidung Natal berkumandang, puji-pujian pada dewa mengalun dalam gegap gempitanya saudara sebangsa menyambut hari raya sucinya. Senyum tersungging dimana-mana, keriaan terpancar di wajah semua orang, dan negara meliburkan pegawainya demi merayakan kebahagiaan bersama.

Tapi kini, mengapa semuanya sirna, teman? Kemana senyum hangatmu yang dulu kulihat ketika bertemu? Kemana tawa lepasmu kala cerita lucu meluncur dari mulut mungilku? Aku kehilangan senyum simpulmu, aku kehilangan pelukan kehangatanmu, aku kehilangan semuanya. Aku rindu sapamu, aku rindu taawamu, kurindu depakanmu. Aku kehilanganmu, saudara-saudaraku.

Negara ini tidak terbangun dalam satu malam, kita tahu itu teman. Darah dan airmata kakek nenek moyang kita, menyirami bumi negeri ini. Ikatan tali keluarga tercabik-cabik karena perang, terpisah entah dimana sanak saudara. Tubuh-tubuh kurus kering terhempas tercampur debu dan tanah, dengan aroma darah dan luka yang entah kapan tertiup angin. Tulang belulang terserak, tertumpuk, dan terpotong, dimana-mana.

Tak cukupkah sejarah panjang ini menjadi puncak kemarahanmu, ketika negara ini diobrak-abrik oleh tangan dan otak  tak bertanggung jawab? Apalagi yang harus kuberikan sebagai bukti padamu teman agar kau sadar bahwa kita sedang diadu domba? Ketika mereka mencoba merenggut kasih sayang yang ada pada dirimu, hilang tak berbekas? Sadarkah dirimu kawan, mereka ingin aku menangis karena kehilanganmu. Otakmu diisi oleh pemikiran-pemikiran sesat, jantungmu berdegup kencang karena menahan marah, keringat dingin membasahi dahi dan keningmu, dan tubuhmu gemetar karena jiwamu berontak.

Itulah, itulah yang mereka inginkan darimu, teman. Mereka inginkan jiwamu terkoyak atas nama idealisme dan kepentingan. Mereka ingin kita terpisah oleh jarak pemikiran dan saling menyudutkan, karena pepesan kosong dan umpan yang mereka berikan. Jangan biarkan kalimat menyakiti keluar dari mulutmu, kawan. Jaga hatimu agar tetap dingin, cerna setiap kalimat yang engkau baca dengan hati tenang, dan biarkan kepalamu menyimpannya dalam ruang yang nyaman.

Aku saudaramu, teman. Saudara yang akan setia menemanimu, bagaimanapun keadaanmu. Jangan biarkan mereka merenggutmu dariku, jangan biarkan hatimu goyah karena bisikkan dan rayuan, jangan biarkan hatimu kosong dari cahaya Ilahi. Lupakan semuanya, mari saling membersihkan diri dan hati agar kita bisa seperti dulu, bermain dan bercengkerama dengan alam yang mengerti siapa kita sebenarnya.

Inilah negeri elok yang akan kita jaga hingga nafas penghabisan, hingga tubuh kita menua, rambut memutih dan kaki tak sanggup lagi menahan lelahnya kaki melangkah. Tak apa sesekali kita berbeda pendapat, tak apa sesekali kita saling membuat senyum di wajah mendadak menghilang. Itulah persaudaraan yang hakiki, karena perbedaan membuat kita belajar saling memahami, dan akhirnya menyatukan kita. Apapun pilihanmu, aku tetap menyayangimu saudara-saudaraku, aku tetap menyimpan namamu di sudut hati. Gandeng tangan, rapatkan barisan, jaga negara ini dari tangan dan otak tak bertanggung jawab. Jangan biarkan orang menghancurkan negeri surga ini.

I LOVE YOU MY BROTHERS and SISTERS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: