Ayah…Betapa indahnya alunan kidung cintamu untukku. Tak putus irama lagumu memenuhi diary musikku. Detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun demi tahun berganti tapi kau tak pernah lelah menitipkan kidung lagu untukku.Kadang pelan seperti suara angin yang berbisik, tapi kadang keras seperti gemuruh. Kau tak peduli betapa diary musikku sudah penuh atau apakah aku suka dengan kidung lagumu, tapi engkau tetap setia menitipkannya lewat angin yang berhembus, lewat burung yang hinggap di ranting pohon depan rumah, bahkan lewat ayunan bapak penjual gorengan yang sering mangkal depan gang.

     Kidung itu memang kadang terdengar indah, tapi lebih sering terdengar seperti suara derit engsel pintu yang sudah karatan. Mengalun lembut, meninabobokan setiap orang yang mendengarkannya. Tapi terkadang menderu, berdentam seperti suara meriam yang siap melululantakkan benteng pertahanan.

      Baris demi baris keriput di wajahmu seperti lukisan di mataku, bilur – bilur sebagai penanda betapa lelahnya besi – besi tulangmu menopang tembok badan. Aku jenuh tapi kidung ayah memang tak henti bernyanyi, terselip dalam nyanyian tidur malamku. Aku bosan tapi kidung ayah tetap kurindukan, kupegang sebagai teman dalam perjalanan.

      Ayah, bolehkah aku meminta sesuatu? Dapatkah kuterima kidung itu – tak banyak, sedikit saja- dalam bentuk yang kumau? Dalam bentuk cinta yang lain? bolehkah kuambil sekuntum bunga dan kuletakkan disamping tempat tidurmu?  Agar saat tiba waktunya, kau kirimkan kidung cintamu sewangi aroma bunga itu ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: