Image

Judul                : Lagu Cinta Para Pendosa (Sekumpulan Puisi)
Penulis            : Zaim Rofiqi
Cetakan           : I, Juni 2009
Ukuran             : 11,5 x 18 cm
Tebal               : 120 halaman
ISBN                 : 978-979-3064-77-2
Harga              : Rp. 25.000,-

 

 

 

LAGU CINTA PARA PENDOSA

( S e k u m p u l a n   P u i s i )

 Karya Zaim Rofiqi

 

ENDORSEMENT

Bila anda ingin mengalami alam pikiran modernis, puisi-puisi dalam buku ini salah satu representasinya yang terbaik. Kecerdasan, konsentrasi, kedalaman, penggalian makna, dan kesatuan imaji terasa sangat kuat di dalamnya. Sudah sulit menemukan puisi yang demikian dalam kehiruk-pikukan dunia pasca-modernis yang menjemukan seperti sekarang ini. —Faruk HT, Ilmuwan Sastra

Puitika Zaim Rofiqi dibangun di atas khasanah citraan ruang, yang terus mengikhtiarkan keluasan dan  keleluasaan, sembari pada saat sama menetapkan batas-batasnya sendiri. Ada tegangan antara kehendak mengikuti dekorum dan gairah bersajak dengan bebas, tapi sajak-sajak terbaiknya adalah yang berhasil mengawinkan dua kecenderungan yang semestinya tak saling berjodoh ini. Jika Rofiqi setia kepada kerja yang menantang ini, niscaya kita tidak perlu terlalu cemas terhadap masa depan puisi Indonesia. —Manneke Budiman, Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia

Racikan kata-kata yang tersaji dalam buku puisi Zaim Rofiqi ini membuat saya cemburu sekaligus kagum padanya. Dalam puisi-puisinya, Zaim begitu cerdas memilih kata, membangun suasana, serta menafsirkan pengalaman keseharian dan bacaannya yang kaya. Puisi-puisinya adalah usaha pemberian makna pada banyak hal di dunia ini yang sepertinya sia-sia.—Nong Darol Mahmada, Aktivis Perempuan

Dengan senjata puitik yang wajar dan bersahaja, Zaim Rofiqi melawan vonis waktu yang merenggut segalanya. Puisi-puisinya adalah memoar perjalanan kehilangan yang berkeras menyelamatkan jejak, gema, dan bayang-bayang.
Arif Bagus Prasetyo, Penyair

____________________________

CATATAN PEMBACA

TENTANG TANPA BATAS: SAJAK-SAJAK ZAIM ROFIQI

Oleh Goenawan Mohamad

Puisi selalu bergerak di pinggir tata simbolik.  Ia berdiam dalam bahasa, ia mengikuti bahasa, tetapi ia tak sepenuhnya di sana dan tak betah di sana. Mungkin itu sebabnya puisi adalah antitesis bagi kediaman.

Kata “kediaman” bisa menyarankan arti yang sama dengan tak adanya gerak, tapi juga arti yang sepadan dengan “rumah”.  Sajak-sajak Zaim menyatakan bagaimana ia selalu cenderung melepaskan diri dari kediaman itu, meskipun ketertiban yang dikehendaki oleh bahasa diikutinya:  puisi-puisi ini tak meletup dengan keganjilan surrealis; mereka tak menyerah kepada apa yang bisa disebut “prakarsa permainan beda”, yang tak kunjung selesai dalam kata-kata. Tapi isi sajak-sajak ini adalah ketidak-betahan.

Dalam Batas, ia menyebut sebuah masa lalu yang dibangun oleh “ibu, bapak, masa kanak, rumah, pelukan, sawah, belaian tangan halaman, tanah lapang, pekarangan, pohon ketapang, kelereng, layang-layang, gambreng, ular-ularan, sekolah, guru, sejarah, ilmu nahwu, tatap mata, kisah cinta, remaja, tamasya…”.  Tapi semua itu tak bisa bertahan. Makin lama, ketika “detik demi detik” berjalan, terbentuklah batas, dan aku terpatok. Sang penyair tahu, “ada yang harus lepas”, hingga “menjauh meluruh mengabur melebur membuyar memudar menghilang”.  Makin lama, terbentuk keterasingan, bahkan represi:

Sebuah batas
lebih tajam dari cadas
sebuah diam
lebih kelam dari kuburan
pelan-pelan menyerap, menghisap
seperti tuhan
seperti pohon beringin besar
di pekarangan rumah

Yang menarik ialah bahwa bagi Zaim apa yang di luar batas itu bukanlah dengan sendirinya sesuatu yang indah, mudah, dan menyenangkan. Bahkan itu mungkin,  seperti disebutnya dalam sebuah sajak yang lain, “hamparan negeri/yang mungkin tak kita mengerti.”

Dalam Sel, kemungkinan yang tinggal adalah berjalan di ruang sempit dan terkunci itu – antara pasrah dan resah.  Tapi

juga di luar,
kita tahu
tak ada jawaban

Meskipun demikian,  beberapa kali sajak-sajak Zaim menyarankan, pilihan terbaik tetap menampik kediaman.  Ia dengan sangat jelas menggunakan alegori Ikarus untuk itu.  Anak muda ini terbang, dengan sayap yang sederhana, tinggi, mendekati matahari:

Tidak, tidak, tidak perlu tanya
ke mana?
Di ketinggian
dengan sayap kembar
sayap-sayap mimpi dan kerinduan 
aku tahu
aku bukan layang-layang 
tak akan ada lagi benang
menyeret kita
ke kiri, ke kanan

Cakrawala tak lagi mengerikan, “bahkan Olympia tertaklukkan”, kata sajak Ikarus dengan jumawa, tanpa ironi.  Sajak ini tahu, pada akhirnya sayap kembar yang dibanggakan Ikarus akan terbakar panas surya,  tapi akhir itu tak membuatnya gentar:

biarkan aku tinggi
meninggi
meski aku tahu
mimpi ini
akan hangus
terbakar
matahari

Dalam soal ini, Zaim melanjutkan elan yang kita temukan dalam puisi Indonesia tahun 1940-an, ketika Chairil Anwar dengan gagah dan nekad memilih meninggalkan taman yang sempit dan terbang dengan sebuah “non-stop flight”, yang tak akan pernah mendarat, tak akan pernah mendapat.  Kita ingat, sajak Chairil dan Rivai Apin berulang kali menyebut laut sebagai daerah kepergian, dan itu berarti pembebasan.

Tapi Zaim, seperti Chairil,   bukanlah seorang Odysseus.   Dari Perang Troya yang bertahun-tahun, raja Ithaca ini berlayar jauh – dan kata “odyssey” dalam bahasa Inggris jadi sebuah metafor tentang perjalanan panjang yang penuh petualangan.   Yang tampaknya dilupakan dalam metafor itu adalah bahwa perjalanan Odysseus yang termashur dalam dongeng Yunani kuno itu sebenarnya sebuah perjalanan pulang; dan akhirnya orang pemberani ini memang sampai kembali ke Ithaca, ke kediamannya.

Ia memang akhirnya seorang raja dan suami, penguasa sebuah lokalitas dan rumah tangga. Juga seorang yang, dengan akal dan tipu dayanya, dengan tekad dan ikhtiar besarnya, dapat mengalahkan pelbagai kejutan, keganjilan dan kelainan yang ditemuinya sepanjang perjalanan.  Dalam hal itu memang patut ia disebut sebagai prototipe “borjuasi”, sang penakluk liyan. 

Emmanuel Lévinas membandingkan Odysseus dengan Ibrahim, sang nabi.  Yang pertama adalah kisah kepulangan. Yang kedua kepergian yang tak mengacuhkan kembali. Yang pertama mengukuhkan “aku” dalam pergulatan dengan liyan – “aku” yang menemukan miliknya kembali. Yang kedua memenuhi panggilan liyan –  terutama pada momen paradigmatik, ketika suara yang maha lain itu memintanya untuk memberikan miliknya yang terbaik, yang sebenarnya memang sesuatu yang tak bisa dimilikinya: anaknya.

Ibrahim tak berumah; ia jadi aktuil kembali di sebuah zaman ketika “tak berumah” tak bisa disamakan dengan “tuna-wisma”.  Dalam kata “tuna-wisma”  tersirat sebuah kekurangan (“tuna”) dari yang sebuah kondisi normal, sementara keadaan “tak berumah” tak merupakan sesuatu gejala deprivasi. Bahkan “rumah” atau “kediaman” mengandung deprivasinya sendiri.

Tidakkah kau tahu
apakah luka itu?
Tidak, ia tak akan kembali
sekarat
di kampung asal
di mana tubuh-tubuh disembunyikan
di mana matahari hanya membikin kusam
tua
dan akhirnya padam
maka pada perbatasan ini
antara dara dan kijang kencana
ia mengatupkan diri
memilih tak kembali
tak pergi
pada tebing sepi ini
ia mencoba terus bertahan
mengingat dan mengekalkan
lumpur susu
madu negeri khayalan
—meski ada yang harus ia tinggalkan
dan perlahan
menjadi terlupakan—

Ada kemungkinan, bahwa  dalam zaman ini, “tak berumah”  tak akan menjadikan diri sebuah penangkal sebuah semesta yang dibangun oleh teknologi – terutama teknologi informasi —  yang sudah dipercakapkan Marshall MacLuhan hampir setengah abad yang lalu ketika ia berbicara tentang “manusia elektronik”: nomad baru, sebagaimana manusia paleolithik dulu.   Teknologi  telah membentuk manusia tanpa akar dan sebab itu tanpa kedalaman – satu hal yang menyebabkan eulogia Lévinas terhadap ketak-berumahan tak sepenuhnya menarik. 

Tapi bagi Zaim, bukan citra “manusia elektronik” itu yang memukaunya. Manusia semacam itu terlampau terbiasa dengan terang dan kerapian.  Sang penyair lebih bersatu dengan para pemabuk.

Pernah, memang, kami cemas pada kelam
pada gelap dan bayang-bayang
pada hitam, pada semua yang tak jelas terhampar
dan kami pun jadi pemuja suar
saat matahari datang
dan jalan-jalan tampak jelas terbentang
dan kami merasa pasti
ini semak, ini belukar
ini duri, ini kerakal
semua harus disingkirkan
semua harus lenyap dari hamparan.
Tapi ada yang tak kami perkirakan:
setelah kota lapang, datar dan seragam
suar jadi teramat menyilaukan.
Tapi ada yang selalu saja tak tertangkal:
terus dan terus
semak dan belukar
menjalar
duri dan kerakal
bermunculan
bersama kembang
bersama mawar-mawar yang kami semaikan
lalu kami pun mulai belajar
menerima remang, gelap, dan bayang-bayang
hingga kami sadar
terang yang terhampar
senantiasa mencipta kembaran
gelap, yang mekar lewat bayang-bayang
hingga kami mulai menyukai remang
saat semua seperti melayang
memanjang
menjelma bayang-bayang
dan kami, mungkin juga mereka,
akan terus dan terus meraba
ini jalan apa
gang ini menuju ke mana

Tampak, pengembaraan puisi juga tak sama dengan perjalanan panjang Ibrahim. Sang patriakh, atau sang nabi, berada di jalan lurus iman yang terang.   Puisi, seperti saya katakan di awal pengantar ini, selalu bergerak di pinggir tata simbolik.  Ia tahu ada yang luput dari tata itu:  sesuatu yang bergejolak dalam gelap bawah-sadar, sesuatu yang mabuk dalam hidup.

Tentu, sajak-sajak Zaim bukan sajak dengan garis-garis yang mabuk. Tapi ia tetap sebuah statemen tentang pembebasan.***

____________________________

TENTANG PENULIS

Zaim Rofiqi lahir di Jepara, Jawa Tengah, 25 Juli 1979. Pernah mencicipi pendidikan sastra Indonesia di Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, selama 1 tahun, sebelum kemudian melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta.

Menulis puisi, cerpen, esai, dan menerjemahkan buku. Puisi, cerpen, dan esainya telah terbit di berbagai media, dan buku terjemahannya antara lain: Terry Eagleton, Marxisme dan Kritik Sastra; Isaiah Berlin, Empat Esai tentang Kebebasan; dan Francis Fukuyama, Memperkuat Negara.

Kini ia bekerja di Jakarta, sambil terus menyelesaikan studinya.  

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: