BTLA

Film adalah wajah kehidupan manusia dengan sang sutradara sebagai maestronya. Apa, bagaimana dan hasil akhir sebuah karya film pada akhirnya ada di tangan sutradara. Benar seperti yang dikatakan Woody Allen bahwa sutradara adalah manusia setengah dewa. Ya, memang benar karena sukses tidaknya sebuah film memang tergantung sejauh mana sutradara mampu meracik film menjadi makanan bergizi bagi penonton.
Demikianlah pembukaan diskusi premis film “ Bulan Terbelah di Langit Amerika” dengan Mbak Hanum Rais sebagai penulis buku dengan judul yang sama. Diskusi tim KOPI kali ini mengangkat isu Islam dan perkembangannya di Amerika. BTDA sendiri pertama kali diterbitkan bulan Juni 2014 dan sudah dicetak ulang hingga 12x. Sebagai penulis yang lama tinggal di Austria dan Amerika, bisa dibilang Mbak Hanum bukan sekedar penulis novel yang bisa dianggap remeh. Pengalaman selama 4 tahun di Wina membuat film ini mempunya ruh yang kuat. Sudah tentu diperlukan riset mendalam untuk membuat novel dengan tema sensitif seperti ini. Menarik jika kita menelisik pernyataan Mbak Hanum bahwa “99 Cahaya di Langit Eropa “dianggap beliau sebagai hadiah dari Tuhan atas kesetiaan beliau sebagai seorang istri sekaligus pengingat bahwa beliau adalah anak seorang politikus handal. Dan kini, BTLA menjadi bukti betapa besarnya pengetahuan sejarah beliau tentang Islam dan luar negeri. Passion yang kuat dengan latar belakang keluarga politikus lagi-lagi membuat karya Mbak Hanum mempunyai ciri khas dan kekuatan tersendiri dibanding novelis yang lain.

DSCN1919

Siapapun tahu jika peristiwa serangan 9 September meninggalkan trauma yang mendalam, baik bagi muslim maupun non muslim. Hanya karena nila setitik rusak susu sebelanga. Publik asing diberi suguhan makanan lezat berupa teror mengatasnamakan agama, hanya karena ulah beberapa orang atau organisasi. Bahkan peristiwa 9/11 ini sudah masuk dalam kurikulum sekolah di Amerika. Dan ini sebuah prestasi yang memalukan. Bagaimana Islam yang susah payah dibangun dengan keringat, darah dan airmata bisa ternoda karena pemikiran yang sempit? Dimana sebetulnya letak ajaran agama yang mereka pelajari? Bagaimana bisa isi Alquran yang suci disalah gunakan?
Kegelisahan-kegelisahan inilah yang mendorong Mbak Hanum menulis naskah bertema Islam dan luar negeri. Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia sudah tentu menjadi sorotan dunia. Propaganda melalui film ternyata dirasa efektif sebagai sarana mengedukasi masyarakat Amerika dan Eropa. Penyampaian pesan melalui visualisasi kata, suara dan gambar diharapkan dapat mengubah paradigma luar negeri terhadap Islam agar lebih baik lagi. Mbak Hanum pun ingin meluruskan bahwa tidak ada yang namanya ISLAMPHOBIA, namun yang ada EKSTRIMISPHOBIA. Memang tidak mudah menerjemahkan sebuah buku ke dalam bentuk film. Perlu kerjasama yang apik karena sebuah film bukan hanya kerja penulis saja. Begitu banyak pihak yang terlibat mulai dari produser, sutradara, pemain, kru dan marketing. Menuangkan konsep dan ide ratusan kepala tentu perlu koordinasi hati yang cantik.

DSCN1917
Dan film Bulan Terbelah di Langit Eropa ini untuk kedua kalinya menjadi ajang pembuktian Mbak Hanum sebagai seorang penulis dan jurnalis yang handal. Inilah film Indonesia dengan citra Hollywood melalui tangan dingin sutradara handal Rizal Mantovani. Apakah film ini mampu menjawab rasa penasaran penonton bagaimana sebenarnya Islam di mata dunia? Apakah film ini mampu menjawab kehausan akan dunia yang damai? Atau justru film ini mampu menggelitik rasa keingintahuan non muslim tentang Islam?

APAKAH DUNIA AKAN LEBIH BAIK TANPA ISLAM?

Kita tunggu tanggal mainnya 😉

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: