DSCN2224

Sejarah adalah seni, seni adalah sejarah. Dan film adalah salah satu manifestasi sebuah perpaduan unik antara sejarah dan seni. Film garapan Angga Dwimas Sasongko, selaku produser dan sutradara ini menjadi bukti kerja keras sebuah tim yang cinta seni dan sejarah. Film ini unik karena selain memadukan antara musik, kisah romantis juga berbalut sejarah kelam negeri ini pada era tahun 1965-an.

Saya berkesempatan menghadiri acara nonton bareng dan press conference film ini di Epicentrum XXI Kuningan, Jakarta Selatan pada Senin, 25 Januari 2016. Ini adalah film istimewa karena mempertemukan aktor papan atas seperti Tio Pakusadewo dan artis senior Widyawati. Julie Estelle sebagai Larasati dalam film ini, menjadi sentral karena selain bermain Julie juga harus bernyanyi dan memainkan piano. Dan uniknya, syuting adegan main piano ini benar-benar nyata, bukan rekaan semata. Rio Dewanto mendapat peran sebagai Dewa, mahasiswa dan bartender di Praha.

 

DSCN2240

Sebenarnya ide cerita film ini sederhana, yaitu kepergian Laras ke Praha untuk mengantarkan sebuah kotak dan sepucuk surat untuk Jaya, seorang mahasiswa penerima beasiswa pada era tahun 1965-an. Surat yang harus ditanda tangani oleh Jaya sebagai syarat agar Laras bisa menerima harta warisan ibunya. Nah, disinilah cerita mulai bergulir. Jaya yang bersikeras tidak mau menanda tangani suratnya, Laras yang heran dan marah kenapa menandatangi surat bisa menjadi sebuah pekerjaan yang menyusahkan, hingga rentetan peristiwa sejarah nyata tentang gejolak politik dalam negeri.

Film ini semakin menunjukkan kualitas kerja tim yang hebat manakala melibatkan para saksi sejarah 10 orang dari 12 orang yang masih hidup. Tiga dari 10 orang saksi sejarah mahasiswa yang pernah kehilangan kewarganegaraannya ini sangat antusias terlibat dalam film. Mulai dari riset sejarah selama 3 tahun oleh penulis skenario M.Irfan Ramli, proses peninjauan lokasi hingga proses kerjasama syuting dengan rumah produksi lokal di Praha. Bahkan dua diantaranya berkenan hadir di acara press conference dan menceritakan secara langsung pengalaman mereka pada para jurnalis.

DSCN2256

Inilah film yang bukan hanya memanjakan mata penonton dengan pemandangan kota Praha, namun menyuguhkan sejarah negeri tanpa menggurui. Film ini layak ditonton keluarga agar anak-anak tahu sejarah yang sebenarnya, menjadi renungan apa itu cinta sejati dan kesetiaan-pelajaran penting untuk kawula muda dan orangtua. Kerinduan kembali ke haribaan ibu pertiwi, kerinduan melihat dan berkumpul dengan sanak saudara, dan belajar cinta dan kerinduan pada belahan jiwa.

Film ini mampu membuat kita merenung tentang hidup dan cinta, mampu menumbuhkan rasa cinta negeri, dan belajar menjadi manusia yang mau memaafkan diri sendiri. Akankah Jaya mau menandatangani surat dari Sulastri (Widyawati)? Bagaimana usaha Larasati meyakinkan Jaya dan mengerti perjalanan hidup ibu dan Jaya yang sesungguhnya? Akankah Jaya mau memaafkan dan tidak menyalahkan dirinya sendiri atas kepergiannya tanpa kabar pada Sulastri?

Buka hati untuk menerima renungan tentang hidup dan cinta, siapkan saputangan karena Anda pasti akan mentikkan airmata. Penasaran bagaimana ending cerita dan kenyataan sejarah politik negeri ini tahun 1965-an?Yukk tonton filmnya yang mulai tayang 28 Januari 2016 di bioskop 21 kesayangan Anda.

Salam KOPI 😉

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: