Mars

Pendidikan seyogyanya menjadi tanggung jawab pemerintah sebagai pemimpin rakyat. Menyediakan fasilitas terbaik, akses belajar yang cukup, bahkan mendatangkan guru terbaik untuk rakyatnya. Namun, soko guru pertama dan terbaik adalah seorang ibu. Ya. Ibu, sosok yang berjuang melahirkan anak, tetap berjuang apapun kondisinya, demi buah hatinya. Film MARS yang akan tayang pada tanggal 04 Mei 2016 ini menjadi salah satu bukti kecintaan dan kepedulian sineas Indonesia pada dunia pendidikan.

Tupon ( Kinaryosih ) menjadi salah satu dari jutaan perempuan yang memperjuangkan anaknya, untuk meraih impian menjadi yang terbaik. Hidup dalam kemiskinan di daerah Gunung Kidul, tidak menghalangi Tupon memberi semangat pada Sekar Palupi ( Chelsea) untuk bersekolah. Lingkungan desa yang masih kuat dengan mistisnya, serba kekurangan air, dan minim pekerjaan tidak memberi pilihan banyak pada masyarakat desa. Siapa sosok yang menjadi trigger Tupon dan Sekar?

mars2
Chalidi Asidil A.

Dialah Ustadz Ali ( Cholidi Asidil A) yang memberi suntikan semangat pada Sekar dan ibunya lewat surat IQRA. Ya, lewat pengajian dan penjelasan surat Iqra, menjadi titik balik Tupon untuk berjuang menyekolahkan Sekar setinggi-tingginya. Mendapat penolakan keras dari preman kampung, tidak menyurutkan langkah Ustadz Ali untuk tetap berdakwah di kantong minim sentuhan agama tersebut. Cholidi, siAzzam dalam film Ketika Cinta Bertasbih ini layak mendapat apresiasi. Peran yang konsisten sejak awal main film pertama membuat Cholidi mampu menjadi trigger dan begitu menyelami aktingnya. Ini yang saya tangkap saat mini conference bersama Koalisi Online Pesona Indonesia (KOPI) di markas KOPIKABARINDO, Sarinah.

mars4

Bagaimana perjuangan Tupon dan Sekar? Bagaimana Sekar bisa sampai kuliah di Oxford? Apa yang membuat ibu dan anak ini bisa bangkit melawan kemiskinan dan mistik? Penasaran, kan? Film ini HARUS Anda tonton bersama keluarga, terutama anak-anak. Mengapa? Karena inilah film tentang pendidikan penyuntik semangat paling TOP :

  1. Setting – Film ini mengambil lokasi tidak tanggung-tanggung, yaitu di Gunung Kidul dan kampus Oxford (Inggris). Pencarian lokasi yang pas dengan isi ceita dan pesan yang ingin disampaikan memang tidak mudah. Perijinan di luar negeri ternyata lebih sulit. Jam syuting yang dibatasi hanya 4 jam per hari, peralatan dan gedung kampus Oxford yang banyak tidak boleh digunakan, bahkan PH harus menyediakan jaminan sampai sebesar 10 Miliar jika sampai ada fasilitas publik yang rusak, disengaja atau tidak. Tapi, karena tuntutan profesionalitas dan dedikasi, setting film tetap diambil di Inggris. Terima kasih untuk Pak Jhonny, warga negara Indonesia yang bermukim di Inggris yang banyak membantu tim produksi mendapat ijin selama syuting disana. Anda sebagai penonton patut bangga karena inilah film pertama yang mendapat ijin syuting di kampus Oxford University setelah film Harry Potter dan film Hollywood lainnya. Negosiator ulung seperti Pak Jhonny lah yang banyak membantu tim produksi bisa syuting di kampus bergengsi ini

2. Tim Produksi – Tidak tanggung-tanggung loh produser Syafiq membawa kru ke Inggris sampai 50 orang. Coba bayangkan, berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk biaya visa, pasport, tiket, akomodasi, makan hingga membayar perijinan selama di sana. Tidak mudah syuting di negara orang, apalagi dengan aturan ketat. Bahkan ketika tim produksi ingin mengambil gambar langit-langit gedung Oxford, susah sekali. Dan ketika akhirnya diijinkan, ternyata drone yang dibawa setinggi 1 meter dimana jelas-jelas dilarang masuk oleh tim Oxford. Negosiasi alot hingga akhirnya tim produksi hanya mengambil gambar di luar gedung. Salut untuk tim produksi yang gigih walau halangannya banyak. Demikian kira-kira yang disampaikan Pak Jhonny .

3. Tema dan Visi – Inilah film tentang pendidikan yang membumi. Film pendidikan yang mengangkat perjuangan masyarakat kelas bawah meraih cita-cita. Bukan hanya menampilkan kemewahan, fasilitas mudah, kehidupan kota. Tapi justru kemiskinan, tanah kering dan tandus, perempuan, dan perjuangan yang begitu berat. Visi film ini ingin menumbuhkan semangat bahwa, kemiskinan tidak bisa menghalangi cita-cita untuk meraih impian. Semua kembali pada pelakunya, apakah mau berjuang atau tidak. Mengapa film ini harus di tonton anak usia sekolah dan para orang tua? Karena agar para orangtua dan anak-anak bisa saling bekerja sama dalam pendidikan.

4. Film Perdana Sutradara Sahrul Gibran – Sahrul Gibran sebagai sutradara sudah membuktikan, perjuangan tanpa kenal lelah akan membuahkan karya. Mars adalah film perdana Sahrul untuk perempuan-perempuan Indonesia yang menjadi motivator pendidikan anak negeri meraih masa depan. Film ini pun menjadi istimewa karena dalam proses pembuatannya Sahrul Gibran banyak dibantu oleh sutradara kawakan Jhon De Rantau. Sutradara yang sudah malang melintang dalam perfilman Indonesia ini bahkan salut pada Sahrul sang sutradara yang gigih belajar karena inilah film perdananya. Ada beberapa kutipan Jhon De Rantau yang paling saya ingat :

“Karya yang terbaik adalah karya yang akan kita buat”

” Skenario yang baik 90% sudah meneylesaikan tugas sutradara”

“Skenario yang baik adalah sutradara kedua”

mars3

Bagaimana ending film ini, menyedihkan, menyenangkan atau membuat kita merenung tentang pendidikan dan masa depan? Apa yang bisa kita perbuat untuk pendidikan anak bangsa ini? Catat ya tanggal 4 Mei 2016 film ini akan ditayangkan di seluruh bioskop Indonesia. Jangan sampai tidak nonton, RUGI 🙂

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: