Mars

“Kita boleh lahir dimana saja, tapi cita-cita harus digantungkan di langit”

Ruangan dengan arsitektur Eropa itu menjadi saksi seorang mahasiswi dari desa terpencil di Gunung Kidul, Yogyakarta menjadi lulusan terbaik Universitas Oxford, Inggris. Berdiri di podium membacakan pidato dengan mata berkaca-kaca, dengan tatapan ratusan pasang mata wisudawan dan wisudawati. Dari menit pertama diputar, dada saya langsung berdetak kencang. Tangan sudah siap memegang tisu dan akhirnya terbukti, tisu saya sukses menjalankan tugasnya.

Kisah mulai bergulir dengan pemandangan desa Gombang yang hijau oleh tanaman padi. Tupon (Kinaryosih) apik memainkan peran sebagai perempuan desa yang buta huruf namun menginginkan anaknya Sekar, bisa bersekolah. Dengan semangat empat lima Tupon menempuh jarak belasan kilometer untuk mendaftarkan Sekar. Namun, halangan masih saja ada, Sekar belum bisa sekolah karena alasan usia yang belum cukup. Namun, ini tidak menyurutkan niat Tupon hingga akhirnya Sekar bisa sekolah. Namun, lagi -lagi Tupon harus bersabar, karena Sekar membuat ulah yang akhirnya harus keluar dari sekolahaN. Tak pendek akal, Tupon berhasil memasukkan Sekar ke sekolah madrasah.

Baru juga keadaan agak tenang, Tupon harus mengalami cobaan yang bertubi-tubi. Uang sekolah yang terlambat hingga kematian ayah Sekar, lagi-lagi menguji kesabaran Tupon dan semangat Sekar. Namun, lagi-lagi kekuatan tekad seorang ibu mampu membuat Sekar menyelesaikan sekolah hingga SMA. Namun, bagaimana perjalanan Sekar selanjutnya? Mampukah dia melanjutkan kuliah? Siapa yang membantu Sekar mewujudkan cita-citanya? Bagaimana nasib Tupon ketika Sekar kuliah?

Film ini memang layak diacungi jempol. Penonton harus menyiapkan mental yang kuat karena sepanjang film diputar, dada dan perasaan Anda akan dihentak oleh pemandangan indah sekaligus memilukan. Akting Kinaryosih membuat film ini hidup, seolah-olah penonton mengalami sendiri. Pemandangan hijaunya padi kontras dengan kedaan rumah Tupon. Bilik bambu yang berlubang disana-sini, genting yang bocor, hingga perabotan dapur yang seadaanya, jauh dari kesan sederhana, apalagi mewah. Saut untuk tim artistik dan wardrobe yang berhasil memvisualkan script ke dalam bentuk nyata. Salut juga untuk kameramen yang berhasil men-shoot gambar-gambar indah. Mimik muka pemeran dan pakaian yang dikenakan sangat sesuai.

Namun, ada satu hal yang cukup mengganggu saya sepanjang film ini diputar. MUSIK ! Film ini settingnya pedesaan dengan latar belakang Gunung Kidul yang miskin. Namun, kenapa soundtrack film justru musik pop? Kenapa tidak musik tradisional gendhing khas Jawa yang menampilkan sedih dan syahdu? Andaikan ingin memasukkan musik pop dalam film, masukkan pada sisi dimana film menampilkan gambar bersetting modern. Bahkan, pada beberapa adegan volumen musik terlalu besar hingga beberapa percakapan tidak terdengar jelas karena tersamarkan oleh musik. Ini menjadi catatan yang selalu saya ungkapkan pada beberapa film Indonesia.

Namun, secara garis besar saya acungkan jempol untuk ide cerita, misi dan visi film MARS. Sutradara Sahrul berhasil memvisualisasikan script yang diangkat dari novel ini. Bahkan saya memboyong dua anak saya yang masih kecil, loh agar semangat mereka untuk bersekolah bertambah. Terima kasih Buana Media Kreasindo, terus produki film-film yang mengemban visi mencerdakan anak bangsa.

Jangan lupa ke bioskop tanggal 4 Mei 2016 ya, ajak keluarga sekalian 🙂

Salam KOPI, Demi Film Indonesia 🙂

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: