Note : Petikan cerpen

     Kata – kata itu terngiang kembali di telingaku. kata yang singkat namun berat untuk dirasakan. kata yang tak ingin kudengar, namun selalu mengiringi kemanapun kaki ini melangkah. Kepala penat dan hati tercabik karenanya. Kepala tertunduk malu, hati berdesir bak pasir di pantai. Apalagi yang harus kulakukan tuk menutup mulut-mulut yang kelaparan itu? yang haus darah dan derita orang? apakah aku harus menyumpal mulut – mulut itu dengan segenggam kenikmatan? apakah aku harus meredam suara – suara itu dengan irama lagu mendayu?

     Tak ada !!! Yah..memang tak ada lagi yang perlu kulakukan dan kukatakan. Biarkan mulut – mulut itu menganga mencari mangsa, biarkan mulut – mulut itu berlumuran darah kenistaan. Biarkan mereka lelah dan terkapar tanpa daya. Aku adalah aku. Jangan pernah kulumurin mulut dan hati ini dengan titik nadir kehidupan. Biarkan merpati terbang tinggi, biarkan bulan bersinar tapi aku tak akan goyah. Lelah hati ini mengumpulkan sisa – sisa air kehidupan. kureguk asinannya, kutelan pahitnya karena aku adalah bintang kehidupan.

      Waktu berjalan cepat, secepat hati ini menata serpihan roman kehidupan. Takada lagi kepala yang tertunduk malu, tak ada lagi mulut – mulut yang haus mangsa dan tak ada lagi hati yang membeku bagai batu. Apakah alam akan berpihak pada yang kuat? atau justru pada yang lemah? Entahlah…terlalu mahal kepala ini memikirkannya. aku adalah aku. tak akan kubiarkan serdadu – serdadu itu menghalangi langkahku. biarkan mereka berkata apa yang ingin mereka katakan. Tak akan kubiarkan lagi tombak – tombak panah menghujam dadaku. Tak akan kubiarkan kau sentuh ujung kulit halusku walau sedetik.

    Kini aku adalah elang, yang terbang tinggi tanpa batas dan tanpa lelah. Melaju bersama angin kehidupan. Aku adalah elang… elang matahati dewa surga…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: