Turun dari kereta, bergegas menyusuri lorong stasiun. Pandangan terpaku pada orang-orang yang berlalu lalang di bawah cahaya lampu stasiun yang  remang-remang. Wajah – wajah dengan 1001 macam emosi ; lelah, senyum sendiri dengan Hp di tangan, ada yang terdiam, bahkan tertidur di sudut bangku. Kulangkahkan kaki keluar stasiun, ramai lalu lalang manusia dan kendaraan, dan mata kembali terpaku pada gemerlap lampu sebuah mall. Mewah, warna-warni dan penuh dengan orang-orang dengan berbagai kepentingan.

Tapi entah mengapa, rasa bosan tiba-tiba menyeruak dalam hati. Bosan melihat riuhnya suara manusia, bosan melihat ketergesa-gesaan, bosan melihat wajah-wajah kaku, bosan dengan suara bising kendaraan, hingga bosan dengan suasana kotanya. Aku seperti terasing dalam keramaian. Ada apa gerangan?

Bosan. Ya, ternyata aku bosan. Ingin segera kuberlari  menuju peraduan. Ingin kupeluk malam dalam keheningan, dalam diam, hanya desahan nafas saja yang ingin kudengar. Ingin kubercengkerama dengan-Nya tanpa diliputi 1001 macam rasa ketakutan. Aku bosan dengan carut marutnya ketimpangan tanpa pernah ada jalan akhirnya.

Aku bosan dengan segala ketidakmampuanku mengubah keadaan menjadi lebih baik. Aku bosan dikelilingi wajah-wajah zombie penghisap darah sesamanya, wajah penumpuk harta, seolah mereka akan hidup 1000 tahun lamanya. Aku ingin lari, tapi kemana kaki kuarahkan? Hanya bersimpuh diatas sajadah yang bisa kulakukan, menangis seperti anak kecil kehilangan ibunya, dan bertanya mengapa semakin banyak jiwa-jiwa muram dibalik kemewahan? Mengapa begitu banyak kelalaian hanya karena emosi dan dunia?

Sadarkah bahwa tanpa kasih sayang dan campur tangan ALLAH, kita tidak bisa apa-apa, kita bukan siapa-siapa. Lantas mengapa masih menganggap orang lain itu lebih rendah derajatnya dari kita? Lantas mengapa begitu mudahnya mengangkat dagu hanya karena sanjungan, status, pangkat dan harta? Apakah harus tercabut nyawa dulu, kami para manusia baru sadar dan taubat?

Memangnya kita ini siapa?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: