Memimpin Bekasi bukan dengan otot, namun dengan hati. Demikian kira-kira benang merah yang dapat ditarik dari pesan #KampanyeAkbar pasangan Ibu Meilina (Bu Meli ) dan  (Bang Iik). Kampanye putaran akhir pasangan calon nomor 1 ini di langsungkan di Lapangan Telaga Asih, Cikarang Barat, 11 Februari 2017, menjadi penutup sebuah hajat besar warga Bekasi dalam memilih calon Bupatinya.

Ada beberapa hal menarik yang menjadi catatan saya sejak  mengikuti debat pasangan calon Bupati Bekasi di Kompas TV beberapa waktu yang lalu hingga kampanye akbar :

  1. Sosok Calon Pemimpin Muda ; Sebuah pergantian pemimpin, baik tingkat pusat maupun daerah diharapkan membawa angin segar bagi wilayah tersebut. Perubahan bukan hanya sekedar wacana vici misi saja, namun juga pada tampilan fisik dan jiwa calon pemimpin. Mengapa? Karena seyogyanya menjadi pemimpin itu membutuhkan konsentrasi tinggi dan fisik yang luar biasa. Begitu banyak tantangan dan pekerjaan rumah daerah yang harus diselesaikan, bukan? Tidak mudah memimpin sebuah daerah dengan aneka dinamika suhunya. Tidak mudah mengerti dan memahami keinginan jutaan penduduk, dengan segala rasa dan keinginan. Dan tidak mudah pula memimpin sebuah daerah dengan wilayah yang luas. Pemimpin yang berjiwa muda diperlukan karena sebuah daerah tentu membutuhkan ide-ide segar dari pemimpin yang visioner. Era teknologi dimana pemimpin harus mampu mengubah paradigma masyarakat, dari pola berfikir tradisional menuju pola modern, tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur bangsa itu sendiri.
  2. Santun & Berwibawa ; Menjadi pemimpin bagi sekian juta warga, dengan aneka suku dan karakter membutuhkan sebuah sikap dan hati yang sangat luas. Bagaimana pemimpin ketika berinteraksi dengan suku Batak (misalnya), tentu berbeda ketika berhadapan dengan warga dari suku Jawa. Ada nilai-nilai yang harus dipegang teguh dan dijalankan oleh calon pemimpin sebuah daerah. Nilai norma sopan santun bagaimana agar interaksi dengan warga tidak menimbulkan friksi-friksi baru. Bagaimana agar pemimpin tampil berwibawa, memiliki karakter tegas yang lahir dari hati, bukan sekedar retorika atau meraih simpati semata. Santun harus melekat dalam karakter jiwa pemimpin karena tanpa kesantunan, akan menjauhkan warga dari pemimpinnya. Nilai norma yang membuat seorang pemimpin tetap rendah hati, karena ia menyadari seyogyanya seorang pemimpin adalah pelayan masyarakat, harus melayani bukan dilayani. Kewibawaan mutlak diperlukan karena pemimpin harus tegas, baik ke dalam maupun keluar. Wibawa jelas diperlukan karena bagaimana sebuah daerah bisa bangga dengan pemimpinnya yang arogan, tidak tegas, klamar-klemer (redaksi : Bahasa Jawa, lembek daam sikap). Ketika visi pemimpin sudah mengarah pada pembangunan berteknologi, jelas visi ini harus diwujudkan dalam bentuk nyata. Bagaimana caranya? Dengan mencari investor yang siap menanamkan modalnya untuk mendirikan industri. Bagaimana agar investor percaya? Kewibawaan kali ini maju ke depan karena pemimpin harus melakukan rapat dan negosiasi dengan para calon investor. Dan kepercayaan investor tentu akan bertambah jika seorang kepala daerahnya mampu menunjukkan kesantunan dan kewibawaan.
  3. Visi & Misi Jelas ; pergantian pemimpin tentu diharapkan mampu membawa perubahan pada kehidupan warganya, terutama dalam hal fisik. Bagaimana target calon pemimpin tersebut terkait pembangunan daerah, ini yang harus dipertegas. Apakah jalan yang rusak nanti akan diperbaiki atau dibuat lebih baik? Apakah akan ada program perbaikan fasilitas umum? Apakah ada rencana memperbanyak rumah ibadah agar memudahkan warga beribadah? Apakah target jangka pendek dan panjang pembangunan bisa terealisasi dalam kurun waktu masa jabatan? Ini yang harus dilihat dari paparan para calon pemimpin daerah. Visi dan misi yang jelas dan realistis harus menjadi pertimbangan warga dalam memilih.  Jangan sampai karena terpukau dengan embel-embel di belakang nama para Palson, warga kurang memperhatikan visi dan misinya.

 

KAMPANYE AKBAR

Jujur, baru kali ini saya menyaksikan langsung sebuah hajat pesta demokrasi rakyat, yang selama ini hanya saya lihat di televisi. Pesta demokrasi daerah yang diusung partai PDIP dan PKB ini membuka mata saya, ternyata rakyat Indonesia sudah melek politik, sadar betul bagaimana seharusnya sebuah kapanye berlangsung. Warga berdatangan dengan tertib, satu per satu dengan berjalan kaki berombongan maupun konvoi kendaraan. Kaos bergambar Paslon dan bendera partai, membuat lapangan merah membara. Salutnya walau hujan deras turun berhenti bergantian, namun warga tidak bergeming. Anak muda tetap setia berdiri di depan panggung, para ibu dan remaja putri setia dengan payung di tangan. Gempita pesta semakin meriah ketika para artis ibukota dan daerah menghibur warga. Asli saya sampai merinding ketika panggung digoyang dengan nyanyian dan hentakan tubuh warga, dengan wajah – wajah yang gembira.

Semangat saya ikut terbakar, tidak peduli hujan turun saya terus meringsek ke depan panggung, menyeruak diantara warga sambil memegang kamera. Bahkan sampai saya harus membeli jas hujan plastik demi menghasilkan foto yang terbaik. Tidak ada wajah – wajah sedih, tidak ada wajah duka. Semua bergembira. Bapak – bapak yang berjoget asyik, melupakan sejenak masalah rumah tangganya. Ibu-ibu yang setia menonton dibawah payungnya, melupakan sejenak urusan dapur dan cuciannya. Remaja putra dan putri yang ikut bergoyang, melupakan sejenak rumitnya pelajaran sekolah. Dan senyum para pedagang yang ikut berpesta karena dagangannya laris manis.

Inilah pesta demokrasi yang sesungguhnya. Memberikan kegembiraan pada warga tanpa diembel-embeli dengan retorika politik yang rumit. Warga sudah lelah dengan urusan mencari uang, warga sudah lelah dengan 1001 janji para kandidat, kini saatnya bergembira sebelum hari pencoblosan. Saya salut dengan aura yang terbangun dari #KampanyeAkbar ini. Badan saya tak  berhenti ikut bergoyang, walau dengan jas hujan dan kamera di tangan. Warga terus berjinkrak dan bergoyang dibawah guyuran hujan deras dan lapangan berlumpur. Para Jurkam dan artis pendukung pun sama semangatnya dengan meneriakkan yel-yel kampanye. Semua keriuhan itu tiba-tiba berhenti, mendadak hanyut menjadi satu koor ketika dua artis menyanyikan lagu kebangsaan Paslon nomor 1,

“Salam satu jari, jangan lupa pilih Bu Meli. Salam satu jari, jangan lupa pilih Bang Iik. Salam satu jari, jangan lupa pilih MENARIK”

Salut untuk kerjasama panitia, artis pendukung, para jurkam dan warga. Inilah pesta demokrasi yang sebenarnya. Pesta yang menyentuh langsung para warganya. Pesta yang tak diributkan oleh berbagai isu money politik dan jegal menjegal. Sudah saatnya para pemimpin mendengarkan suara hati dan bahu-membahu dengan warga membangun daerahnya, tanpa egois dan kepentingan pribadi dan golongan. Saya sebagai warga ber-KTP DKI Jakarta Timur sangat mengharapkan warga Bekasi terus berbenah dan membangun daerah dengan dipimpin Bupati yang visioner. Bekasi sebagai daerah penyangga Jakarta, harus terus mengejar ketinggalan yang ada dan menutup kekurangan dengan berbagai pembangunan dengan target dan waktu yang cepat. Saya yakin warga Bekasi akan semakin maju dengan pemimpinnya yang jauh lebih baik, baik dari segi semangat maupun target kerja nyatanya.

Satu lagi, kalau boleh titip pesan untuk Ibu Meli dan Bang Iiki warga DKI nih, mohon targetkan pembangunan fisik sekolah-sekolah dan rumah ibadah ya. Kenapa saya katakan ini? Karena setelah pulang kampanye dengan kaki belepotn lumpur, saya mencari tempat yang bisa digunakan untuk mencuci kaki dan berbenah diri. Satu-satunya tempat yang saya temukan adalah SD di samping lapangan. Dengan percaya diri saya ijin masuk pada ibu kantin tapi akhirnya harus menelan kekecewaan. Saya kaget bahkan syok ketika melihat kamar kecilnya. Sangat, sangat, sangat tidak layak untuk sebuah kamar kecil sekolah. Kotor, bau, berkerak kuning dan coklat, dengan selang dan kran yang sangat kotor. Plus sampah dimana-mana. Jujur saya sedih, bagaimana anak-anak bisa senang ke sekolah dan membanggakan sekolahnya jika kamar kecilnya sangat tidak layak dimasuki? Bagaimana mau membangun mental baik pada anak jika nilai-nilai kebersihan tidak ditanamkan sejak kecil? Saya juga kesulitan menemukan masjid/mushola, bu. Ketika menemukan, itu adanya di gang kecil seberang lapangan, setelah sebelumnya berjalan cukup jauh. Mohon ini bis amenjadi masukkan jika nanti ibu dan Bang Iik terpilih. Mohon diperbanyak mushola/masjid agar kami para warga kota lain yang berkunjung mudah beribadah.

Saya percaya Ibu Meli dan Bang Iik akan melakukan perombakan besar-besaran pada pembangunan fisik sekolah. Karena visi dan misi dan misi yang visioner dan berkelanjutan tentu sudah menjadi rencana kerja nyata Paslon No.1. Selamat berjuang warga Bekasi, selamat menentukan pilihan dan salam demokrasi dari warga DKI. Salam Perubahan 😉

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: