Pernah dalam satu masa dalam hidup, saya protes kenapa tidak seperti orang lain yang beruntung dapat ini, ikut itu, kesana kemari, dll. Mereka bisa mendapat pendidikan terbaik hingga mendapat pekerjaan bergengsi, memiliki rumah dalam usia pernikahan yg baru seumur jagung, bisa jalan-jalan kemana saja mereka suka, dan banyak lagi bentuk iri yang hinggap di hati saya.

“Salahku apa, kenapa aku beda sama perempuan lain, padahal aku udah jadi perempuan yg baik, nurut sama ortu, nggak neko-neko?”

Ternyata, proses perjalanan hidup bukan cuma berkisar pada pertanyaan itu saja. Bukan soal nurut atau tidak, pintar atau tidak, beruntung atau tidak. Proses perjalanan batin itu panjang dan berat kalo niatnya cuma setengah-setengah. Bisa saja kita bergelar S1, S2 tapi kita punya kekurangan pada satu sisi yang justru mungkin jadi kelebihan perempuan yg cuma lulusan SMP/SMA.

Kita jadi tegar, kuat, mandiri, peka, dan sikap baik lainnya, bukan simsalabim, cuma satu malam langsung jadi. Berat sist/bro, karena mental kita yg jadi taruhannya. Kita mau terima nggak kalau kalah, kita diam nggak kalau ada yang sinis atau benci, kita berusaha belajar lagi biar terpilih dalam hal apapun? Nambah ilmu, perluas pergaulan, sekuat tenaga biar bisa sejajar dengan perempuan lain dalam satu sisi.

Protes nggak akan berguna kalau kita tidak mengubah diri kita jadi lebih baik. Saya tidak akan bisa ikhlas dan move on kalau masih berkutat dengan pertanyaan menggerutu saja. Siapa yg akan menolong kita jadi lebih baik? Bukan orang lain tapi diri kita sendiri. Mampukah pikiran dan sikap baik kita mengalahkan semua aura negatif dalam diri atau justru lebih dalam menjerumuskan kita dalam kubangan dunia kebencian?

Allah akan menaikkan derajat kita ketika kita sudah mau ikhlas menerima segala ketidakberuntungan diri, ketika mampu legowo dengan rejeki yang baru sedikit, ketika mau peka dengan sekitar kita. Ramadan bukan soal lapar dan haus di siang hari saja tapi justru mengajari diri meneropong lebih dalam semua kekurangan diri dan akhirnya menjejakkan kaki untuk naik menjadi lebih baik.

Ikhlas itu berat, peka itu harus dilatih, sabar itu kudu dipupuk, move on itu memang tujuan akhir. Jika kita tidak mengenali kekurangan diri sendiri dan mengubahnya jadi lebih baik, bagaimana Allah akan percaya menitipkkan tugas besar di pundak kita?

*RenunganRamadan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: