Pengacara Muara Karta. Sumber foto : muarakartalawyer.blogspot.com

Muara Karya Simatupang,SH.,M.M bukan nama asing di dunia hukum Indonesia, terutama di Jakarta. Lelaki asal kota Tapanuli, Medan yang lahir di Jakarta tanggal 25 Januari 1952 ini adalah seorang profesional di bidang Advocates dan Legal Consultant.

Kehidupan Pribadi

Memiliki seorang ayah yang dinas di TNI AU dengan pangkat terakhirnya bintang satu, membuat Muara memiliki disiplin dan kekuatan mental kuat sejak dini. Didikan keras dan ketat dari seorang TNI membuat Muara belajar bahwa sebuah kesuksesan bukan jalan yang mudah. Namun, kelembutan hati ibu Sianturi mampu mengimbangi disiplin dari sang ayah. Menikah tahun 1983 dengan Dr.Larasati, seorang Doktor Kriminolog Spesialis terorisme membuahkan hasil tiga orang anak, yaitu : Laura, seorang pengacara yang praktik bersama teman-temannya di Amerika, Billy Simatupang melanjutkan S2 di Berlin, dan Gabriel Simatupang yang saat ini masih di SMA Taruna, Magelang.

Pendidikan 

Dengan latar belakang orangtua dari TNI membuat pendidikan menjadi fokus utama keluarga Muara. Memulai pendidikan SD di Halim Perdana Kusuma, SMPN 20, SMAN 14, hingga akhirnya kuliah jurusan Hukum Tata Negara di UI tahun 1973. Senang belajar dan menyukai tantangan tidak lantas puas dengan gelarnya. Tahun 2001 Muara melanjutkan S2-nya di UI hingga tahun 2003. Proses pendidikan dan karir pengacaranya tidak mengalami hambatan karena memang hukum menjadi cita-cita dan tekad kuatnya.

Karir

Keinginan kuat menjadi pengacara sudah tumbuh sejak Muara remaja duduk di bangku SMA. Melihat banyaknya hukum dipermainkan di lingkungannya, tekadnya semakin bulat untuk menjadi penegak hukum. Tahun 1997 karir pengacaranya dimulai saat Pengadilan Tinggi di bawah naungan Mahkamah Agung membuka lowongan advokat. Mahasiswa yang tidak pernah magang ini langsung diterima bekerja dengan SK pengangkatannya langsung dari Menteri Hukum dan HAM (Red : dulu Menteri Kehakiman dan HAM ).

Karir pengacaranya dimulai dengan kasus pertama, yaitu pembunuhan Bos rekaman Irama Tara, Nyo Beng Seng di Kota tahun 1999. Karirnya semakin kokoh saat menjabat sebagai Dewan Pembina Peradi bersama Otto Hasibuan. Semakin menjamurnya acara infotainment pun membuat Muara kebanjiran job menjadi pengacara artis Ibukota. Salah satu artis yang pernah ditangani adalah Alm. Jupe alias Julia Perez. Bintang film ini harus menerima keberatan pemuka adat Kalimantan terkait film ” Perawan Dayak”, hingga akhirnya Muara turun tangan. Dengan mediasi secara kekeluargaan dengan Kepala Suku, Muara berhasil memberikan penjelasan dan akhirnya terjadi mufakat bahwa judul film diganti menjadi ” Perawan Desa”.

Dedikasi tinggi pada profesi membuat Muara tidak pernah menolak klien yang datang minta bantuannya. ” Saya profesional, tidak pernah menolak klien”, demikian kata Muara. Dengan motto, ” Bagaimana bisa membela klien tanpa harus dengan uang, artinya kalaupun mereka ada dalam kesulitan keuangan kalau harus saya bela akan saya bela”. Muara menjalankan Promono, artinya membela orang-orang yang membutuhkan bantuan hukum. Kasus lain yang menghebohkan adalah kasus Aa Brajamusti. Baru tiga bulan menangani akhirnya Muara melepaskan kasus tersebut karena adanya protes dari 100 ibu-ibu untuk tidak meneruskan menangani kasus Aa’. Inilah yang membuat beliau mundur selain karena adanya alasan lain. Kasus terbesarnya adalah pembobolan uang di Indonesia, dimana pelakunya lari ke Singapore.

Saat ini Muara menjalankan Kantor Hukum “Muara Karta & Partners” di Jakarta yang menangani kasus pidana dan perdata.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: