Awal lulus SMA saya masih jadi orang yang nggak sabaran (dalam hal tertentu). Tapi dalam hal lain, saya sabarnya kebangetan, hampir seperti orang bodoh. Manut saja, jawab iya sambil manggut-manggut tanpa berani membantah. Selang beberapa tahun kemudian, sikap tidak sabar saya mulai masuk ke wilayah kerja.

Selang bertahun-tahun kemudian, bertemu dengan beragam karakter orang, beragam suku dan agama, membuat wawasan saya bertambah. Karena terbiasa cepat, saya sempat stres ketika menemukan beberapa masalah terkait dengan hubungan yang lambat. Saya berharap orang paham dengan apa yang saya inginkan. Saya berharap orang tahu bagaimana perasaan saya, dengan melihat raut wajah saya saja. Saya berharap orang paham kenapa saya tiba-tiba marah.

Tapi saya lupa, orang lain juga punya perasaan dan permasalahan sendiri. Ketika saya berharap orang mengerti, saat itu juga barangkali dia sedang sibuk dengan masalahnya. Ketika saya ingin orang lain paham bahasa tubuh saya, pada saat yang sama dia sedang sibuk menahan sakitnya. Dan saat saya ingin orang tahu alasan saya marah, pada saat yang sama dia juga sedang mengendalikan amarahnya, pada orang lain.

Saya (dan mungkin juga Anda) berharap orang lain mengerti dan pengertian pada orang lain. Dan ketika itu tidak terjadi, kita galau, uring-uringan bahkan marah. Padahal sikap pengertian itu tidak bisa dipaksa. Pengertian harus lahir sendiri dari sebuah kesadaran tingkat tinggi. Pengertian ketika orang lain berbuat salah, pengertian ketika apa yang terjadi di sekitar tidak sesuai harapan, pengertian ketika keluarga ada yang mengecewakan, dll.

Pengertian itu harus ditanam, di pupuk, diberi hadiah ketika kita berhasil menumbuhkan dalam hati. Pengertian itu baru bisa petik manakala kita sendiri sudah mau belajar mengerti orang lain. Memahami posisinya ketika mengatakan sesuatu. Kalau kita masih egois, jangan harap pengertian itu akan ada dalam diri. Pengertian itu ekivalen dengan keikhlasan. Nggak boleh jumawa apalagi merasa paling tinggi. Pengertian nggak bisa dipaksa karena dia lahir dari sebuah proses pendewasaan diri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: