PI4Bagaimana ketika sebuah pesantren yang dikenal dengan identik dengan agama dan jalan kebenaran mengundang 10 gadis bermasalah dalam hidupnya? Pecandu narkoba, pengedar, korban perkosaan, pencuri bahkan pembunuh. Bagaimana mungkin mantan gembong dan pengedar narkoba mampu mengundang dan mengubah dalam sekejap perilaku negatif 10 perempuan tersebut?
Inilah film horor religi yang baru pertama kali ada di Indonesia. Terobosan baru yang dilakukan MD Pictures ini patut diacungi jempol. Selama ini film hanya menampilkan kisah horor dengan cipratan darah dan senjata tajam. Namun, film ini menampilkan sisi lain, bahwa horor tidak melulu berbau kekerasan dari awal sampai akhir film. Ide kretif bisa dimunculkan lewat sisi dan angle yang lain agar thriller tidak hanya horo namun hasil kolaborasi cantik antara religi, horor dan drama,hingga menjadi tontonan yang mendidik.
Tokoh dan karakter dalam film ini ditunjukkan dengan profil 10 tamu undangan Pesantren Impian. Eni, seorang polwan yang cerdas dan punya wewenang sedang mengungkap kasus pembunuhan di hotel Christal. Sosok perempuan modern dan smart namun “menjauh” dari kehidupan religi. Kejadian demi kejadian di Pesantren Impian menyadarkan Eni, bahwa dia hanya manusia biasa yang sangat membutuhkan Tuhan. Ada lagi sosok Inong, yang terbiasa hidup di jalanan ternyata masih mengingat Tuhannya. Aura ketakutan karena teror berhasil diimbangi dengan petuah bijak dari Ustazah Hanum yang diperankan dengan apik oleh Sita Nursanti. Sutradara Ifa Isfansyah juga berhasil mengarahkan pemain dengan akting yang baik. Prisca Nasution yang berhasil memainkan karakter polisi muda, Fahcry Albar sebagai mantan pecandu dan gembong narkoba, Dinda Kanya Dewi sebagai Inong, mantan anak jalanan yang ingin bertobat, dan deretan pemain
Layaknya film thriller, Pesantren Impian ternyata berhasil menampilkan soundtrack yang sangat mendukung. Racikan musik Krisna Purna sangat menggelegar, pas di dengar telinga, dan menimbulkan efek seram namun tidak kacangan. Dan pilihan lokasi cerita yang hanya dipusatkan disatu tempat, membuat penonton lebih mudah mengikuti alur cerita tanpa dipusingkan dengan kesulitan mengingat lokasi cerita dari awal sampai akhir film.
Pesantren impian mencoba memperkenalkan film thriller religi tanpa mengumbar aurat, adegan intim, atau mengumbar kemusyrikan. Terobosan baru yang patut mendapat acungan jempol dan dukungan dari masyarakat.
Lantas, bagaimana ending film ini? Siapa orang yang sebenarnya sudah berhasil meniupkan teror di Pesantren Impian? Penasaran, kan? Yukk langkahkan kaki ke jaringan bioskop 21 mulai tanggal 04 Maret 2016 di seluruh Indonesia. Mari sukseskan nilai-nilai religi dalam sebuah film demi kebaikan umat. Jika bukan kita, siapa lagi?
————————–

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: