raksasa

“Jangan salahkan cinta jika dia datang dengan cara yang berbeda”

Film garapan Star Vision yang diproduseri oleh Pak Chand Parwedz dan sutradara handal, Monty Tiwa kembali menggedor hati penonton Indonesia dengan drama percintaan yang tak biasa. Diangkat dari novel karya Dwitasari, film ini mampu menyuguhkan kisah kasih biasa tapi luar biasa. Bukan kisah cinta murahan yang identik dengan seks, namun kisah cinta dibalut pengalaman pahit pernikahan, panti asuhan dan kesederhanaan khas Yogya.

Pasti tidak asing dong dengan film Beauty and The Beast khas Amerika? Nah, Raksasa Dari Jogya inilah B & B -nya Indonesia. Umumnya sutradara membaca novel dulu baru script film, namun kali ini terbalik. Monty Tiwa yang langsung jatuh cinta pada skenario Sihombing ini bahkan tidak mau membaca novelnya, namun berkat istri beliau akhirnya sutradara ini membaca bukunya. Dan, makin jatuh cinta dengan naskah ini.

raksasa4

Film ini sebenarnya sederhana, namun kekuatan dan keunikan justru datang drai akting para pemain yang tampak ekspresif, mengalir apa adanya. Abrar Adrian sebagai Gabriel patut diacungi jempol. Akting pertama mantan pemain basker, editor dan adik dari manager Bunga Citra Lestari ini patut diapresiasi. Debut pertama dalam perfilman ini memang tampak sedikit kaku pada beberapa menit pertama, namun ternyata Abrar dapat mengimbangi permainan Karina Salim yang berperan sebagai Bianca (Bian).

Saya justru salut pada Karina. Dengan tubuhnya yang mungil  dia pas sekali memerankan sosok Bianca. Wajah oriental dan mata sipit mampu menambah akting Karina menjadi lebih ciamik. Sepanjang film saya perhatikan ekspresi perubahan mimik Karina dalam memainkan peran. Ekspresi bingung, sedih, marah, senang bahkan menangis. Titik puncak akting Karina pada saat dia marah pada Gabriel di kantin rumah sakit. Bianca yang tenang, pemalu dan sedikit kikuk bisa marah bahkan sampai membanting barang. Ini adegan yang paling saya suka.

Latar belakang keluarga bisa mempengaruhi pergaulan dengan lawan jenis. Pengalaman buruk yang dialami mamanya akibat ulah papanya meninggalkan bekas luka batin. Takut setiap mendengar bentakan dan orang dipukul menjadi trauman mendalam untuk Bian. Trauma inilah yang akhirnya membuat Bian sedikit menjauh dari Gabriel ketika Gabriel melakukan “kesalahan” di depan mata dengan menghajar preman yang mengganggu Bian. Gabriel yang menderita Gigantisme ( kelebihan hormon pertumbuhan) dan sikap cuek, dikenal sebagai biang kerok di kampus harus bertemu dengan Bian yang mungil, tenang namun memendam trauma. Justru disinilah uniknya film ini, memadukan antara yang biasa dengan yang tak biasa.

raksasa2

Kisah cinta sederhana namun luar biasa maknanya ini makin indah dengan soundtrack ‘Pelabuhan Terakhir” dari Tantri (Kotak) dan Arda. Penghayatan yang mendalam dan lirik yang syahdu mampu menambah syahdu suasana film ini terasa romantis. Film ini sarat makna dan renungan. Bagaimana perjuangan seorang ibu tabah menjalani penyiksaan fisik dan batin dalam pernikahan, demi anak bisa sekolah tinggi. Perjuangan seorang anak panti asuhan meraih cita-citanya kuliah S2 di Eropa. Perjuangan seorang Bian mencari makna hidup dan cinta yang mendamaikan.

raksasa3

Bagaimana akhir dari kisah ini? Apakah Bian dan Gabriel menemukan cinta sederhana mereka? Bagaimana kelanjutan hidup mereka, berhasilkah mereka menggapai cita-cita? Sanggupkah Mama Bian bertahan dan selamat dari tragedi rumah tangganya?

Jangan lupa ya, siapkan tissu dan cemilan untuk menuntaskan rasa penasaran Anda pada tanggal 31 MARET 2016.

Salam KOPI, Demi Film Indonesia 😉

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: