Relationshit

Penulis nonton film tentang penulis yang kocak alias gokil? Cckckck, asli baru kali ini saya nonton film anak muda Indonesia yang bikin saya tertawa habis dari awal sampai akhir film. Gimana nggak coba, tingkah sama gaya bicara Alitt (Jovial da Lopez) dan Supri (Bayu Skak) membuat film ini punya roh yang mampu membuat penonton sayang memanglingkan wajah dari layar walau sedetik sekalipun.

Tipikal anak muda yang sedang jatuh cinta benar-benar digambarkan dengan pas oleh Alitt. Gaya berpakaian model jungkies, kacamata dengan bingkai tebal dan hitam, body language yang pecicilan, grasa-grusu dan bicara ceplas-ceplos. Ketika sang pacar, Winda (Dina Anjani) ulangtahun jelas dong Alitt mau memberikan surprise kayak biasanya? Nah, mulai deh perut penonton dikocok kayak orang lagi buat kue. Kue tart yang dipesan Supri ternyata tertukar dengan pesanan seorang ibu, karena kemacetan perjalanan ke rumah Winda nyasar ke gang sempit, hingga baru ketahuan kalau kue tart bukan bergambar hati tapi…dinosaurus !

Sutradara pinter juga memilih pemain yang pas untuk peran Supri. Logat Jawa medok, gaya pakaian main tabrak, sabar, setia pada sahabat, sangat apik dimainkan oleh Bayu Skak. Saya yakin, kalau bukan Bayu rasanya film ini kurang hidup. Bayu betul-betul main total, terutama ketika ekspresi kesal/marah yang sangat jelek banget deh mimiknya. Kalau bukan pemain watak dan jaim, beneran deh peran Supri nggak bakal bisa dijiwai.

Problem dimulai ketika mamanya Winda menolak dan mengusir Alitt. Alitt yang dinilai tidak pernah dewasa, dandanan nggak rapi dan pekerjaannya sebagai penulis dianggap tidak menjanjikan ( hiks, disini saya merasa sedih). Iringan musik sendu mengantar kepergian Alitt. Aduhh, patah hatinya itu loh terasa banget. Saya sebagai penonton aja geregetan, kok bisa ya jaman sekarang masih banyak ya orang yang menilai seseorang dari penampilan dan pekerjaan menterengnya? hehehe…

Tapi itulah Alitt. Penulis yang menjadikan hidup seperti panggung komedi. Patah hati memang sempat membuat dia seperti orang gila. Duduk berhari-hari di depan kos, hampir lupa dengan jadwal mengajar, berteriak marah pada Supri hingga harus dijaga dua temannya agar tidak mengamuk lagi. Nah, lagi-lagi ekspresi Supri disini sangat lucu tapi memelas. Wajah bengong dengan ekspresi ketakutan membuat penonton kasihan tapi juga tertawa.

Berkat perjuangan Supri akhirnya Alitt bisa menerima kenyataan patah hatinya. Maka dimulailah babak pencarian pacar baru. Disini timbul kelucuan-kelucuan yang alami, nampak bukan seperti sebuah film.  Sampai akhirnya Alitt dipertemukan dengan Vivi (Natasha Wilona) di sebuah toko buku. Terpaksa membeli buku yang terlanjur dibuka plastiknya membuat Vivi kesal. Hingga dia memutuskan mengikuti bedah buku  Alitt. Sebagai hukuman karena terpaksa membeli buku, Alitt diminta Vivi mengajari menulis. Ada satu kalimat yang saya suka dari Vivi, “Aku  menulis bukan karena ingin kaya tapi karena suka dengan prosesnya”

Masa saling mengenal pasangan adalah masa paling indah namun juga menyebalkan. Proses mengenal sifat/kebiasaan baik dan buruk masing-masing adalah masa yang menguras energi dan perasaan. Hal ini tergambar dari kekesalan Vivi yang menilai Alitt tidak peka dengan perasaan perempuan, Alitt yang bingung kenapa tiba-tiba Vivi marah tanpa alasan. Lagi-lagi kedewasaan Alitt diuji.

Cinta sejati selalu akan menemukan tempatnya ketika waktunya sudah tiba. Setelah sekian lama ternyata Alitt menyadari bahwa sikapnya selama ini salah. Masih menyimpan masa lalu dengan Winda membuatnya tidak mudah MOVE ON. Dan ini membuat hubungan Alitt dan Vivi menjadi renggang. Kedewasaan justru diperlihatkan Vivi dengan meminta maaf karena emosional. Keesokkan harinya mengajak Alitt jalan-jalan.

Berkat bantuan Winda, Supri, Ningsih dan Andrew yang membuat panggung teatrikal, akhi film ini sangat menghibur tanpa menggurui. Akhirnya Alitt minta maaf dan menyatakan cintanya kembali pada Vivi. Penonton pasti sudah tahu dong endingnya bagaimana?

Secara garis besar film ini sangat menghibur tanpa menggurui. Sangat lucu namun sarat pesan. Menampilkan kehidupan anak muda tanpa melupakaan kedewasaan mereka. Film yang sangat bagus ditonton oleh para orang tua agar lebih memahami bagaimana sih dunia anak yang sedang tumbuh dewasa? Terkadang sebagai orang tua kita memaksakan kehendak pada anak tanpa bertanya dulu apakah memang itu yang mereka inginkan.

Ada beberapa catatan kritik saya pada film ini. Pertama, tempo film terlalu cepat, belum selesai menonton satu adegan langsung pindah ke adegan lain tanpa ada jeda walau beberapa detik. Ini membuat penonton yang sudah berumur pasti harus kerja keras memahami setiap kalimat dan maksudnya. Kedua, kenapa ibu dan adik Alitt hanya tampil sebagai cameo saja? Seharusnya dibuat beberapa adegan yang sedikit menggambarkan latar belakang keluarga Alitt. Bahkan apa dan siapa keluarga Supri pun sama sekali tidak ditampilkan. Film terlalu banyak berputar pada keseharian Alitt dan Supri saja. Rasanya ada yang kurang sih.

Namun sekali lagi saya acungkan jempol pada sutradara, penulis, pemain dan kru film Relationshit. Buat saya yang jarang menonton film lokal di bioskop (keseringan sih film barat…hehehe), Anda semua sudah membuat saya ….SUKSES tertawa terbahak-bahak…

Satu hal yang bisa saya garis bawahi adalah :Apapun yang terjadi dalam hidup, kita harus cepat MOVE ON. Masalah itu tidak ada, yang ada adalah keputusan Tuhan yang belum bisa kita pahami. So, jangan biarkan masalah memporak-porandakan perasaanmu. Buang, bersihkan hati dan tetap melangkah demi masa depan lebih baik. Setuju ?

Salam sukses dan kami tunggu karya anak bangsa selanjutnya DEMI FILM INDONESIA 😉

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: