Image
Judul               : THE LOST ARMY OF CAMBYSES
Penulis            : Paul Sussman
Kategori serial  : AlvabetSastra
Penerjemah     : Kunti Saptoworini
Editor              : A. Fathoni
Cetakan           : I, April 2008 
Ukuran           : 12,5 x 20 cm
Tebal              : 560 halaman
ISBN               : 978-979-3064-57-4
Harga              : Rp. 64.900,-

THE INTERNATIONAL BESTSELLER

TELAH DITERJEMAHKAN KE DALAM 32 BAHASA DI 33 NEGARA

Pemenang The Golden Earphone Award 2005

*****

“Serumit lorong-lorong kaca, semencekam ancaman kematian.”—Kirkus Review

“Memacu adrenalin. … Anda merasa seolah sedang menaiki rollercoaster, berada di dalam perpustakaan dan di saat bersamaan tenggelam ke dalam Sungai Nil.”—Crime Time

“Sebuah thriller yang keras, terkadang brutal, namun selalu mengasyikkan. Sussman sangat mengenal Mesir, di masa lalu dan masa kini.”—Dr. Barbara Mertz, arkeolog

“Petualangan yang dahsyat… novel bagus yang ditulis dengan penuh kemampuan.”—Valerio Massimo Manfredi

“Novel ini kian menambah genre misteri Mesir kuno. … Karena Sussman pernah melakukan penggalian di Mesir, kita memercayai detail latar ceritanya.”—Publishers Weekly

“Sangat menarik perhatian… membekukan tulang punggung, thriller yang berjalan cepat. Buku ini memiliki semua bahan dari petualangan James Bond: lokasi eksotis, barang-barang antik yang tak ternilai, fanatisme jahat dalam dominasi global, pembunuhan brutal, polisi korup, heroisme, dan membuat Anda terus menebak sampai ke bagian terakhir. Sangat jarang mendapati buku yang membuat degup jantung berpacu ketika Anda dengan malu-malu dan kompulsif membuka halamannya, tercekam pada apa yang akan terjadi pada paragraf berikutnya. Tetapi dalam gaya The Lost Army of Cambyses sangat mengejutkan sekaligus memikat.” yang mengingatkan pada buku-buku Patricia Cornwell,—Sunday Business Post, Irlandia

“Kisah petualangan yang menyenangkan… penuh pengetahuan arkeologi, dan dibangun dari latar belakang aksi militan Islam.”—The Spectator

“Debut yang tersusun, diriset dengan baik dan ditempatkan secara mengagumkan. … pembunuhan dan cekaman berakumulasi… Benar-benar inventif.”—Publishers Weekly

“Petualangan arkeologi yang penuh aksi… Tercantum juga di dalamnya perasaan luar biasa tentang keluasan gurun pasir, khususnya dalam akhir yang sinematis, yang memacu adrenalin.”—Wealden Times

“Novel ini sangat menyenangkan karena sarat tokoh-tokoh zalim, situasi-situasi sulit, dan keanehan-keanehan yang mustahil.”—Waterstone’s Magazine

“Bak sebuah film, misteri petualangan yang menderu-deru, penuh detail sejarah dan arkeologi Mesir.”—Booklist

*****

 THE LOST ARMY OF CAMBYSES

Misteri Pasukan Cambyses, Pasar Gelap Artefak Kuno, dan Terorisme
Pada 523 SM, Kaisar Persia Cambyses mengirim sejumlah pasukan melintasi padang pasir di Gurun Barat, Mesir, untuk menghancurkan peramalan di Siwa. Pasukan tersebut tak pernah tiba di sana. Menurut legenda, lima puluh ribu tentara lengkap dengan peralatan perangnya itu diterjang badai pasir dan hilang selamanya.

Dua setengah milenium kemudian, serangkaian pembunuhan terjadi di Mesir: seonggok mayat yang termutilasi terdampar di tepian Sungai Nil di Luxor; seorang pedagang barang antik dibunuh secara biadab di dalam tokonya di Kairo; dan seorang arkeolog Inggris bernama Michael Mullray tewas di lokasi penggalian kuno di Saqqara.

Kejadian-kejadian tersebut tampak tak berkaitan satu sama lain. Tetapi, Inspektur Yusuf Khalifa dari kepolisian Luxor memendam curiga. Begitu juga putri sang arkeolog, Tara Mullray, seorang ahli zoologi di Inggris. Mereka lalu mengadakan penyelidikan guna mengungkap misteri di balik peristiwa tersebut. Setelah menemukan kepingan hieroglif yang aneh, mereka pun mendapati petunjuk penting.

Akankah kejadian-kejadian misterius itu terungkap? Apa kaitan antara pasukan Cambyses yang lenyap dua setengah milenium silam dengan maraknya peristiwa pembunuhan di Mesir era kini? Dan, siapa dalang serta apa kepentingan di balik berbagai pembunuhan tersebut?

*****

Setelah meninggalkan Cambridge University, Paul Sussman berkeliling dunia selama tiga tahun. Semasa itu dia bekerja sebagai penggali kuburan, tukang bangunan, dan penjaja deterjen. Pada 1991, dia kembali ke Inggris dan turut mendirikan majalah The Big Issue. Sejak itulah Paul menekuni dunia kewartawanan. Pria yang pernah dinominasikan Periodical Publishers Association menjadi kolomnis Inggris 1997 ini mememiliki seabrek pengalaman sebagai wartawan lepas, antara lain di The Daily Telegraph, The Daily Express, The Evening Standard, dan The Sunday Herald.

Selain menulis, Paul memiliki kegemaran utama di bidang arkeologi. Dia pernah terlibat dalam sejumlah penggalian, dan selama tiga tahun terakhir ia menghabiskan masa Oktober dan November di Lembah Para Raja, Mesir, sebagai petugas pencatat harian untuk The Amarna Royal Tombs Project. Kini, dia tinggal bersama istrinya di London sembari terus menulis feature untuk CNN.com biro Eropa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: