winter3

Cinta itu akan bertemu ketika rasa terus diolah dan disimpan.

Ketika sebuah film 100 % mengambil setting di Tokyo dengan bahasa yang baku dan pemain blasteran, apa ekspektasi yang Anda harapkan? Pasti salah satunya Anda ingin film yang lain daripada yang lain, bukan? Lain dari sisi cerita, pemandangan dalam film yang tak biasa, pemain yang pasti sedikit berbeda dari sisi lafal, dan tentu saja ending cerita yang bahagia.

Pilihan Anda tak salah, Winter In Tokyo mampu menjawab semuanya. Setting di Tokyo selama musim winter, membuat film ini benar-benar nyata. Penonton disuguhi pemandangan musim dingin dengan kostum tebal dan unik khas Jepang. Pemakaian bahasa campuran antara bahasa Jepang dan bahasa Indonesia menjadi daya tarik tersendiri. Penonton sedikit banyak belajar mendengarkan akses bahasa Jepang. Salutnya para pemain benar-benar harus belajar bahasa Jepang dari guru bahasa sekaligus belajar melafalkan bahasa Indonesia baku dengan aksesn Jepang.

winter4

Proses syuting terberat menurut para pemain adalah saat adegan dimana hujan turun, karena suhu Tokyo waktu itu sampai 4 derajat plus reka siraman air hujan dari kru. Bisa dibayangkan bagaimana pemain menahan dingin sambil tetap melakukan dialog. Masuknya pemain Jepang seperti nenek Tokugawa mampu menambah suasana film seperti film Jepang asli. Bagaimana pemain belajar cara duduk dan minum teh ala Jepang.

winter2

Kekuatan film ini adalah olahan rasa yang disampaikan sutradara Fajar Bustomi. Bagaimana kita diajari menyimpas asa akan rasa cinta kita. Cerita diawali saat Keiko menunggu Kazuto di stasiun. Telepon yang tak diangkat akhirnya membuat Keiko pergi dengan wajah kecewa. Cerita berkisah tentang cinta segitiga antara Keiko, Kazuto dan Akira. Keiko, gadis blasteran Jepang dan Indonesia yang bekerja sebagai pustakawan ini, ternyata menyimpan rasa pada Akira, sosok kaka kelas yang sudah membantu menemukan kalungnya. Tahun berganti, Keiko masih tetap menyimpan asa pada cinta pertamanya. Hidup mulai berubah ketika Keiko mendapat teman baru, tepat di depan kamarnya di apartemen. Kazuto yang baru pindah dari New York ternyata teman yang mengasyikkan. Keiko yang ceria menjadi lebih ceria dengan kehadiran Keiko. Cinta pun mulai tumbuh di antara keduanya. Namun, konflik mulai timbul ketika Akira, cinta pertama Keiko kembali ke Tokyo sebagai dokter. Pertemuan demu pertemuan makin menguatkan rasa pada cinta pertama Keiko.

winter

Namun, apakah Winter In Tokyo menjadi kisah akhir bahagia untuk Keiko, Kazuto dan Akira? Apakah Keiko akan bersatu dengan cinta pertamanya atau justru meletakkan hatinya pada Kazuko? Akankah Winter In Tokyo menjadi sebuah film drama percintaan yang sukses, sesukses novel karya Ilana Tan? Mampukah sutradara Fajar Bustomi menghadirkan kisah cinta yang lain?

Film besutan Maxima Pictures dengan sponsor dari Gazero dan Ellpis ini harus Anda tonton. Untuk kawula muda, belajar bagaimana rasa pada cinta itu mengajarimu arti menghargai dan menunggu. Untuk generasi tua, bolehlah jika ingin mengenang masa-masa indah waktu remaja.

Sukses untuk Maxima pictures, sukses untuk film Indonesia.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: