sah

Pernah merasa bosan melakukan sesuatu yang sudah rutin dilakukan? Pernah dalam hati ingin berhenti menulis? Pernah kehilangan benda yang sangat berharga, ketemu dan akhirnya bernazar sesuatu? Achie TM sudah memiliki pekerjaan yang baik kenapa harus berhenti menulis? Allah akhirnya menegurnya dengan kehilangan laptop. Puluhan novel ditulis namun belum ada satupun yang sukses besar, apalagi sampai ke layar lebar. Dan ujung penantian itu berakhir pada diangkatnya novel ke layar lebar oleh MD PIctures. Yah, penulis buku “Insya Allah, Sah”, Achie TM membuktikan bahwa kerja keras dan doa selalu akan ada hasil baiknya, cepat atau lambat.

Novel “Insya Allah, Sah” lahir dari sebuah nazar karena sempat kehilangan laptop. Semua data pekerjaan yang tersimpan di sana sempat membuat keringat dingin novelis ini bercucuran. Janji akan membuat novel Islami akhirnya dia tuanikan ketika laptopnya kembali.

sah3

Proses penulisan sebuah karya tentu membutuhkan riset yang tidak main-main, meski itu hanya sebuah novel fiksi. Achi TM harus melahap berbagai jenis buku dan komik humor. Donald Bebek menjadi salah satu majalah yang dibaca demi mendapatkan sense of humor yang renyah. Teguran dari ALLAH membuat Achie TM benar-benar fokus membuat novel ini. Email dari Gramedia Pustaka Utama pada pukul 3:45 Wib membuat hidup Achie berubah. Inilah yang menjadi titik balik Achie untuk comeback ke dunia penulis.

Naskah novel ini dilirik MD Pictures karena memiliki ide cerita yang unik dan lucu, lain dari naskah lainnya. Tokoh utama wanita yang diperankan oleh Titi Kamal dan pria oleh Panji Pragniwicaksono, membuat film ini semakin cair, mampu melebur menjadi komedi yang tidak garing. Panji bahkan tampil dalam acara Meet & Greet dengan dandanan asli khas Raka ; rambut model ala Beatles, celana sedikit cungklang dan gigi agak nongkrong. Sontak para blogger yang hadir tertawa lepas melihat penampilan dan logak Sunda Panji. Panji berbagi cerita bagaimana sosok Raka yang sering dibilang aneh dan menyebalkan., namun sebenarnya baik dan taat pada agama ini.

Hadir juga Donita, pemeran Karina dengan balutan gaun putih panjang. Sepanjang acara Donita bercerita tentang kelucuan selama proses syuting, antara lain bagaimana Dion (Richard Kyle) membuat semua kru tertawa ketika salah mengucapkan kata” Saya pecat” menjadi ” Saya Ciputat.” Begitu banyak cerita di balik layar selama proses pembuatan film ini.

Satu yang pasti, nilai-nilai religi tidak harus disampaikan dalam keadaan tegang dan resmi. Target dakwah yang beraneka ragam dan tingkat pemahamannya, dapat menjadikan film ini menjadi jembatan agar masyarakat awam lebih paham bagaimana seharusnya sebuah pergaulan dan pernikahan di mata ALLAH dan agama. Dunia film membutuhkan ide-ide cerita dari Achie TM-Achie TM yang lain agar variasi cerita dan pesan yang ingin disampaikan pada para penonton tepat sasaran dan meninggalkan kesan

sah2

Untuk para calon penulis maupun penulis baru, perjuangan Mbak Achie TM dalam menulis patut dijadikan contoh. Puluhan judul novel ditulis tanpa kenal lelah dan berharap salah satu novelnya bisa diangkat ke layar lebar. Akhirnya terbukti bukan bahwa kerja keras bertahun-tahun pasti akan ada hasilnya, cepat atau lambat. Apresiasi juga tak luput saya sampaikan pada produser dan rumah produksi yang sudah memberikan kesempatan naskah-naskah penulis Indonesia untuk diangkat ke layar lebar. Sebuah terobosan dan kesempatan yang baik, yang harus dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh penulis.

Pesan untuk keluarga di Indonesia, tonton film ini ya. Ajak keluarga dan rasakan kegembiraan bersama dalam suasana Lebaran. Mari kita berkolaborasi mensukseskan film Indonesia yang diangkat dari novel-novel karya penulis dalam negeri. In Shaa, Sah, In Shaa Allah kita BISA 😉

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: