Manusia selalu punya 1001 alasan untuk pembenaran atas keputusannya, dalam hal apapun. Kita selalu ingin dimengerti, ingin dipahami, ingin dimaklumi, ketika dalam posisi tersudut. Tapi kita lupa bahwa orang lainpun ingin mendapat perlakukan yang sama. Berapa persen sebenarnya manusia dikuasai emosinya saat marah? apakah ada penelitian khusus yang meneliti kemampuan manusia mengendalikan emosinya?

Kita selalu membenarkan apapun pilihan kita, walau kadang kita tahu pilihan itu salah. Kita dibutakan oleh kenyamanan yang ada, mencari pembenaran atas setiap kata dan isi kepala. Kita tidak ingin dipersalahkan, ingin dibenarkan, ingin dimaklumi, ingin dipahami, tapi kadang kita lupa – atau benar-benar tidak mau mengingat- orang lain pun memiliki emosi yang sama. Bagaimana kita bisa belajar dan naik kelas jika kita sendiri tidak mampu mengendalikan emosi dan pikiran kita?

Memilih. Kata yang enak ditulis tapi sudah dilaksanakan. Contoh paling mudah, bingung memilih baju mana yang hendak dikenakan untuk sebuah acara. Padahal orang-orang yang datang di acara tersebut belum tentu memperhatikan bentuk dan warna pakaian kita, belinya dimana, berapa harganya. Kita sudah terlalu khawatir dengan apa yang menjadi ketakutan dan pertanyaan – pertanyaan yang terus berkelebat di kepala. kita terlalu takut dengan, “Apa kata orang nanti” daripada “Apakah aku nyaman dan senang dengan baju yang kupakai”.

Memilih bukan lagi menjadi keharusan berdasarkan isi kepala dan hati namun sudah berdasarkan “penilaian orang”. Kita seperti lupa bahwa kita membutuhkan ketenangan jiwa dan pikiran atas apa yang kita pilih. Tapi penilaian dan kritik orang menjadi penghambat bahwa apa yang kita pilih bukan berdasarkan “nurani” tapi berdasarkan ” lahiriah”. Dan ketika pilihan itu sudah ditentukan, kita terhenyak, kaget bahkan berontak ketika kenyataan berbeda dengan apa yang diharapkan. Berontak dan menyalahkan menjadi pilihan atas sikap kita yang tidak dewasa. Entahlah, sampai kapan kita “tumbuh” menjadi manusia dewasa seutuhnya, tanpa embel-embel penilaian orang.

Mestinya kita berani mengambil resiko terhadap apapun pilihan kita. Berani menerima efek yang baik atau buruk. Selalu ada sebab akibat yang mengakibatkan kita memilih, bahkan ketika kita tidak mau memilih sekalipun. Kita harus siap lahir dan batin atas segala konsekuensi akibat pilihan kita. Lupakan penilaian orang, lupakan efek negatifnya, tanamkan dalam diri bahwa kita siap dengan segala resiko dan efek negatif atas setiap pilihan kita. Belajarlah jadi manusia dewasa seutuhnya, bukan manusia dewasa karena usia, bukan dewasa karena alam, bukan dewasa karena tuntutan.

Kita akan memahami bahwa pilihan yang kita ambil itu benar, setelah kita terjatuh dalam lubang yang salah. Jatuh, sedih, menangis, bahkan mungkin mengutuk sesuatu yang menjadi penyebab kita harus memilih. Semua itu akan kita jalani untuk sampai pada kesadaran bahwa kita harus memilih, terlepas pilihan itu salah atau benar, mengenakkan atau tidak, menguntungkan atau tidak. Karena memilih adalah keharusan, bukan keterpaksaan. Karena memilih adalah ujian kedewasaan manusia, bukan ajang gengsi dan penilaian. 

Belajar tentang alam, kehidupan dan manusia tidak akan pernah berhenti, sebelum mata menutup dan kita menghadap Sang Pencipta. Kita harus mau dan mau mendengar, melihat, merasa, dan memilih apa yang harus kita pilih. Belajar terus sampai kita tidak memiliki lagi kata-kata untuk tidak memilih.

Berani mencoba untuk memilih?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: